Kepala Batan, Djarot Sulistio Wisnubroto

RI Mampu Olah Nuklir, Tapi Bukan untuk Senjata

Kepala Batan, Djarot Sulistio Wisnubroto.
Sumber :
  • VIVA/Muhamad Solihin

Nanti, uranium ini bisa disebut sebagai renewable energy (energi baru terbarukan). Tapi sekarang masih setengah renewable. Selain itu, uranium harganya murah dan stabil serta hampir tidak mempengaruhi harga listrik yang dihasilkan.

img_title Di Depan Prabowo, Putin: Rusia Siap Bantu Indonesia Kembangkan Energi Nuklir

Meskipun uranium dihargai mahal, karena memang punya proporsi di dalam cost itu hanya lima persen. Kalau, toh, uranium itu harganya fluktuasi, harga listriknya saya kira tidak banyak terpengaruh.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Berapa harga uranium dan bagaimana mekanisme penjualannya?

img_title Malaysia Rencanakan Pemanfaatan Energi Nuklir dalam 10–15 Tahun ke Depan

Pertanyaan bagus. Uranium itu, meski bahan strategis, tapi tidak semahal emas. Kalau kita nambang sekali pun, kalau skalanya tidak besar, ya, belum menguntungkan.

Banyak negara seperti Australia, Kazakhstan, dan Kanada, adalah produsen uranium. Harganya itu hanya seperseratus harga emas
dan dijual per gram. Potensi uranium di Indonesia ada di Bangka Belitung, Kalimantan Barat dan Mamuju Sulawesi Barat.

img_title RI Bakal Punya PLTN Kapasitas 250 MW di Tahun 2032

Siapa saja konsumennya?

Seluruh dunia. Ada 446 PLTN di 31 negara saat ini. China sendiri merupakan pengguna terbesar PLTN karena pertumbuhan ekonominya yang tinggi.

Indonesia sendiri belum boleh jualan. Tapi kita punya tiga reaktor nuklir untuk riset, yaitu di Serpong Tangerang, Bandung dan Yogyakarta. Beli uraniumnya dari AS. Khusus untuk Serpong, bahan bakarnya dipabrikasi oleh kita sendiri.

Tanggapan Anda mengenai bahaya nuklir lebih besar dari manfaat?

Sebenarnya nuklir itu lebih ke arah nonteknis, psikologis dan politik, ketimbang teknologi. Contohnya Prancis yang bergantung pada PLTN. Begitu pula AS dan China. Kalau ditanya, saya melihat masalahnya lebih ke arah psikologi dan politik.

Apalagi kalau kita siklus (politiknya) lima tahun. Entah itu pilkada atau pilpres. Setiap pemimpin politik tidak ingin membuat risiko bahwa dirinya tidak akan terpilih lagi, atau tidak terpilih hanya gara-gara mendukung nuklir.

Itu sering terjadi, dan ini menjadi tantangan bagi kita. Saya justru khawatir ketika kita memutuskan membangun PLTN, semuanya sudah terlambat.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Seperti membangun transportasi publik di Jakarta, yang menurut saya, sudah sangat terlambat. Jakarta macetnya sudah di mana-mana. Tapi, ya, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.

Lalu satu lagi. Posisi ekosistem nuklir saat ini titik lemahnya ada di bagaimana kita mengkomunikasikan dengan pembuat kebijakan, yang terkadang, menganggap ilmuwan sendiri tidak mampu.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut