Transplantasi Jantung Babi ke Manusia Sukses karena Dokter Muslim Ini

Dr  dr Muhammad M. Mohiuddin
Dr dr Muhammad M. Mohiuddin
Sumber :
  • www.medschool.umaryland.edu/

VIVA – Seorang dokter berdarah Pakistan merupakan salah satu ahli bedah pionir di balik suksesnya transplantasi jantung babi ke dalam tubuh manusia. Hingga saat ini setelah operasi dilakukan, pasien yang mendapatkan transplantasi bisa bertahan hidup.

Dr Mohammad Mohiuddin merupakan seorang Muslim yang lahir di Karachi, Pakistan dan merupakan direktur program di the Cardiac Xenotransplantation Programme at the University of Maryland School of Medicine (UMSOM). Dia menjadi pengarah penelitian hingga bedah transplantasi jantung babi tersebut. Dia juga merupakan salah seorang profesor di UMSOM, dilansir Tribune Pakistan.

"Sekarang ini akhirnya menjadi waktu penentuan sebuah riset bernilai tinggi di mana dengan teknik pembedahan ini terbukti mampu bertahan. FDA menggunakan data kami dan termasuk dalam otorisasi eksperimen organ babi dalam teknologi penyembuhan," kata Dr Mohiuddin sebagaimana dirilis UMSOM dan University of Maryland Medical Centre (UMMC).

Dr Muhammad Mohiuddin menghabiskan waktu bertahun-tahun dalam menjalankan praktik xenotransplantation dan meneliti bagaimana membuat jantung babi dikondisikan ke tubuh manusia.

Pada awal tahun 1990-an saat dokter tersebut menjadi ahli bedah jantung, dia menerima saran dan nasihat yang membuat berpikir lebih visioner dan mengubah cara pandangnya dalam hal pembedahan.

Mohiuddin lahir dan besar di Karachi, Pakistan. Setelah menyelesaikan studi Ilmu Kedokteran di salah satu institusi ternama di sana Dow Medical College, dia mendapatkan beasiswa belajar lagi di Fakultas Kedokteran Universitas Pennsylvania di Philadelphia, Amerika Serikat, dikutip dari TRT World.

Pada suatu waktu dia menceritakan, mentornya yakni Dr Verdi J DiSesa seorang ahli jantung terkenal menantangnya soal ide membuat perubahan dan terobosan dalam operasi transplantasi jantung. Pemikiran itu muncul setelah selama ini mereka menyaksikan banyak pasien yang hanya bisa menunggu kematian secara perlahan terbaring di tempat tidur rumah sakit.