Israel Dihantam 'Tsunami'
- REUTERS/Florion Goga TPX IMAGES OF THE DAY
Ekonom politik Shir Hever menilai migrasi massal dari Israel merupakan persoalan yang jauh lebih besar daripada sekadar kepergian para profesional berpenghasilan tinggi.
Menurutnya, perhatian publik terlalu banyak tertuju pada dokter, peneliti, dan pekerja teknologi yang meninggalkan Israel. Padahal, kepergian perawat dan pekerja penting lainnya juga dapat memberikan dampak besar terhadap negara.
Fenomena tersebut menunjukkan adanya risiko brain drain, yakni hilangnya tenaga kerja terampil yang dibutuhkan untuk mempertahankan produktivitas dan inovasi. Di sisi lain, emigrasi juga berkaitan dengan perubahan budaya. Warga Israel yang meninggalkan negaranya secara tradisional menghadapi stigma.
Pada 1970-an, Perdana Menteri Yitzhak Rabin pernah menyebut warga Israel yang pergi sebagai "sekumpulan orang lemah". Dalam istilah Ibrani, imigrasi Yahudi ke Israel disebut aliyah, yang berarti "pendakian", sementara mereka yang pergi disebut yordim, atau "mereka yang turun".
Namun, tekanan politik dan keamanan membuat stigma tersebut semakin diabaikan oleh sebagian warga. Bagi keluarga muda yang merasa tidak lagi mendapatkan kepastian mengenai masa depan, meninggalkan Israel kini dipandang sebagai pilihan untuk mencari kehidupan yang lebih stabil.
Jika tren ini terus berlanjut, persoalan yang dihadapi Israel bukan hanya kehilangan jumlah penduduk. Negara tersebut juga berisiko kehilangan sebagian tenaga muda, terdidik, dan profesional yang selama ini menjadi salah satu fondasi kekuatan ekonominya.