Presiden Yaman Kembali Dituntut Mundur

Demonstrasi di ibukota Yaman, Sanaa
Demonstrasi di ibukota Yaman, Sanaa
Sumber :
  • AP Photo/Hani Mohammed

VIVAnews - Puluhan ribu massa demonstran berkumpul di ibukota Yaman, Sana’a, pada Kamis, 3 Januari 2011, kembali menuntut Presiden Ali Abdullah Saleh untuk turun. Bersamaan itu juga digelar demonstrasi pro pemerintah. Namun, tidak seperti di Mesir, demonstrasi kedua kubu yang bertentangan di Yaman berlangsung tertib dan aman.

Menurut harian The Los Angeles Times, Jumat 4 Februari 2011, massa demonstran anti pemerintah menuntut dilakukannya reformasi politik dengan langkah pertama yaitu mundurnya Saleh sebagai Presiden. Saleh yang telah menjabat sejak tahun 1978 dinilai telah korup dan tidak becus dalam mengatur pemerintahan.

Saleh pada Rabu telah menjawab tuntutan rakyat, dia mengatakan tidak akan mundur. Namun, dia berjanji tidak akan kembali mencalonkan diri lagi pada pemilu presiden 2013 nanti. Dia juga tidak akan memasukkan anaknya dalam bursa calon presiden di Yaman. Selain itu, Saleh mengatakan akan membicarakan masalah reformasi dengan para tokoh oposisi.

“Kami melihat pidato presiden kemarin sebagai sesuatu yang positif, namun demonstrasi kami ini menuntut adanya pemerintahan yang jujur, bukan hanya konsesi,” ujar pemimpin partai Islah, Muhammad Abdul Malik Mutawakkil.

Massa demonstran juga mengatakan bahwa demonstrasi mereka kali ini akan berlangsung dengan damai.

“Kami berdemo dengan damai dan tidak akan membiarkan adanya provokator yang merusak aksi kami. Namun jika pemerintah memaksakan kehendaknya, bagaimana mereka bisa memaksa kami untuk tetap demo dengan damai,” ujar salah satu demonstran, Ibrahim Mohammed Ali Azan.

Demonstran anti pemerintahan yang terdiri dari para pemuda, pekerja dan wanita yang mengenakan jubah hitam rencananya akan berkumpul di lapangan Tahrir, Sanaa, nama lapangan yang sama seperti di Kairo, tempat berkumpulnya massa demonstran anti Mubarak. Namun, di tempat tersebut, telah lebih dulu berkumpul massa pendukung Saleh, sehingga mereka terpaksa mencari tempat lain.

Polisi memisahkan antara masa pro dan anti Saleh dalam dua tempat berbeda, demonstrasi berlangsung aman dan damai. Massa pro-Saleh yang terdiri dari para pegawai pemerintahan dan para pengangguran mendapatkan jatah logistik langsung dari pemerintah untuk berdemo.

Salah satu demonstran, pengangguran bernama Iyad Nasser, mengaku bahwa dia mendapatkan bayaran untuk ikut dalam rombongan. “Dengan jiwa dan darah kami akan berkoban untukmu, wahai Ali,” teriak para demonstran pro Saleh.

“Ali Abdullah Saleh adalah singa di semua Arab, bukan pengecut seperti Mubarak atau Ben Ali. Dia adalah pahlawan kami, dan kami akan melakukan apapun untuk melindungi dia,” ujar salah satu demonstran pro Saleh, Abdul Rahman Ghanam. (hs)