Wantimpres: Konflik Saudi-Iran Bisa Merembet ke Indonesia

Hasyim Muzadi
Sumber :
  • VIVAnews/Fernando Randy
VIVA.co.id - Anggota Dewan Pertimbangan Presiden, Hasyim Muzadi, mengingatkan pemerintah dan publik Indonesia bahwa konflik Arab Saudi dengan Iran bisa merembet ke Indonesia. Bahkan, jika konflik itu tak terdamaikan, bukan tak mungkin terjadi perang terbuka dan menjalar ke Indonesia.

Hasyim Muzadi menjelaskan bahwa diakui atau tidak, konflik itu dilatarbelakangi pertentangan ideologis, yakni Wahabi/Sunni di pihak Saudi dan Syiah di pihak Iran, yang kemudian meningkat menjadi komoditas politik.

Masing-masing negara, kata Hasyim, memiliki negara pendukung maupun penentang. “Negeri seperti Sudan, Kuwait, Malaysia, dan Brunei Darussalam, misalnya, akan segera mendukung Saudi karena negeri-negeri itu melarang Syiah di negaranya masing-masing.”

Sebaliknya, dia menambahkan, “Irak, Suriah, Libanon, dan Yaman utara mungkin mendukung Iran.”

Kedutaan Diserang, Arab Saudi Putuskan Diplomatik ke Iran
“Sedangkan di Indonesia, dua aliran yang musuh bebuyutan ini, banyak sekali aktivis dan jaringannya, sehingga yang diperlukan bagaimana Indonesia tidak menjadi ‘ring’ pertempuran dua kepentingan itu,” katanya, memperingatkan.

Hasyim Muzadi: Kekacauan Timur Tengah Jangan Sampai ke RI
Menurut Hasyim, konflik itu tak akan banyak berdampak banyak manakala memang murni pertetangan ideologis atau perbedaan pendapat maupun keyakinan. “Namun apabila kemudian bersentuhan dengan politik, perebutan kekuasaan, apalagi menjadi bagian dari pertentangan global dan campur tangan negara-negara super power, eskalasinya bisa jadi lain.”

Mau Ada Reshuffle Lagi, Hasyim Muzadi: Trial Error Itu Biasa
Perbedaan keyakinan akan segera berubah menjadi perbedaan kepentingan politik, perebutan hegemoni, kepentingan-kepentingan kawasan, dan sebagainya. Maka tak releval lagi kalau disebut semata masalah ideologis.

“Perang terbuka bisa terjadi di Indonesia, seperti di Irak dan Suriah, pada waktu yang akan datang kalau kita tidak waspada,” ujar mantan Ketua Umum Nahdlatul Ulama itu.

Pancasila

Dia mengaku tak mengkhawatirkan Indonesia kalau negara ini memiliki ketahanan nasional yang kokoh. Masalahnya adalah berbagai masalah dalam negeri, seperti pelaksanaan hak asasi manusia yang berlebihan, liberalisasi politik dan ekonomi, kegaduhan politik, telah menyebabkan ketahanan nasional menjadi rapuh.

“Karenanya Indonesia harus memperkuat ideologi Pancasila, yang sekarang mulai remang-remang,” katanya.

“Penegakan Pancasila tidak cukup dengan imbauan namun harus dengan sistem kenegaraan yang menjamin tegaknya Pancasila serta dukungan rakyat melalui visi keagamaan yang sinergi dengan Pancasila, dan dianut mayoritas bangsa Indonesia, yakni Ahlusunah waljamaah,” dia menambahkan.

Paham Ahlussunah waljamah yang dianut sebagian besar umat Islam di Indonesia, terutama NU dan Muhammadiyah, terbukti dapat mempersatukan bangsa. “Karenanya NU dan Muhamadiyah harus dijaga agar tidak disusupi/digerogoti ideologi non-Ahlussunah waljamaah yang pasti memecah-belah dan pada gilirannya akan merusak NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia).”
Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya