Kesal Pada Abu Sayyaf, Malaysia Siap Tingkatkan Pengamanan

Dubes Malaysia, Datuk Seri Zahrain Mohamed Hashim.
Sumber :
  • Viva.co.id/Afra Augesti

VIVA.co.id – Kasus penyanderaan 14 Warga Negara Indonesia dan empat warga negara Malaysia yang dilakukan kelompok militan Abu Sayyaf menjadi sorotan Duta Besar Malaysia untuk Indonesia, Datuk Seri Zahrain Mohamed Hashim.

Kaleidoskop 2021: Lonjakan COVID-19, KRI Nanggala hingga Herry Cabul

Penyanderaan dua kali yang terjadi di Sabah, membuat pemerintah Malaysia berkomitmen meningkatkan pengamanan bagi kapal-kapal Malaysia dan perairan di sekitarnya karena Malaysia tak ingin kecolongan lagi.

Ditemui di kantor Kedutaan Besar Malaysia, Jalan H Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, Dubes Zahrain menuturkan kapal-kapal dagang yang beroperasi akan lebih aman jika berada di jalur perairan yang telah dilindungi. Dalam artian, mereka tak keluar dari wilayah perlindungan.

Ternyata TNI Ikut Terlibat Selamatkan 4 WNI yang Diculik Abu Sayyaf

"Komitmen kami sudah sangat jelas, pengamanan di perairan itu penting, tetapi kita juga harus sadar bahwa perairan itu besar, apalagi Sabah. Orang-orang yang melakukan penyanderaan ini juga tahu, targetnya nelayan," ujarnya, Kamis, 22 Desember 2016.

"Kapal-kapal perdagangan itu lebih aman karena sudah ada jalur yang dilindungi juga. Kalau kapal nelayan yang ditangkap, mereka berada di luar jalur yang dilindungi karena mereka menangkap ikan," lanjutnya.

Anggota DPR Respons Penyelamatan 3 WNI yang Diculik Abu Sayyaf

Sedangkan untuk Trilateral tiga negara, menurut Dubes Zahrain, persetujuan patroli bersama telah diberlakukan dan merupakan tanggung jawab ketiganya, yaitu Indonesia, Malaysia, dan Filipina.

"Malaysia juga berterima kasih kepada pasukan keamanan karena berhasil membunuh tiga orang antek-antek Abu Sayyaf dengan melakukan penyamaran. Ini salah satu usaha Malaysia agar mereka berpikir ulang jika ingin menculik lagi," tuturnya.

Selain itu, Dubes Zahrain menegaskan jika WNI yang bekerja di kapal Malaysia kerap menjadi target utama penculikan karena pelaku telah mengetahui kelemahan ABK WNI tersebut. "Mereka (Abu Sayyaf) tahu titik lemahnya di mana. Malaysia berkomitmen kuat untuk menyelesaikan masalah ini agar kejadian serupa tak terjadi lagi," tandasnya.

Dikutip dari situs VOA, Jumat, 28 Oktober 2016, Abu Sayyaf 'langganan' menculik awak-awak kapal tongkang di tengah serangan militer yang membatasi mobilitas kelompok bandit itu. Sebuah laporan rahasia milik pemerintah Filipina menyebut kelompok militan Abu Sayyaf meraup sedikitnya Rp9,5 miliar dari hasil uang tebusan penculikan dalam enam bulan pertama tahun 2016.

Dari estimasi Rp9,5 miliar uang tebusan yang diterima Abu Sayyaf sejak dari Januari-Juni, mayoritas berasal dari pembebasan 14 awak Indonesia dan empat Malaysia, yang disandera di basis Abu Sayyaf di hutan provinsi Sulu, Basilan, Filipina Selatan. Serangan Abu Sayyaf terhadap kapal-kapal tongkang serta menculik para awak Malaysia dan Indonesia telah meningkatkan kewaspadaan keamanan dua negara tersebut.

"Pembayaran (tebusan) besar dari hasil menculik memungkinkan mereka (Abu Sayyaf) membeli senjata api dan amunisi," demikian keterangan resmi laporan.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya