Putar-putar Duit Rp500 Juta untuk Korban Tragedi Monas

Komariah, Ibu Aditya Rizki (10), korban meninggal akibat sembako maut di Monas.
Sumber :
  • tvOne

VIVA – Kasus kematian dua bocah saat acara bagi-bagi sembako yang digelar Forum Untukmu Indonesia (FUI) di Monas, Jakarta Pusat, sudah masuk tahap penyidikan. Meski orangtua korban telah mencabut laporannya, tapi tindak pidana dalam perkara ini akan tetap diselidiki polisi untuk memutuskan siapa yang bertanggung jawab.

img_title Siap-siap Menyaksikan Batu Bercahaya Lewat Usai Subuh

Kuasa hukum yang semula mendampingi keluarga korban, Muhammad Fayyad menyampaikan, bahwa Polsek Gambir telah membuat laporan perkara ini sejak tanggal 1 Mei 2018, yang dibuat oleh Aiptu Joko Suparlan. Petugas yang menemukan tindak pidana ini adalah Bripka Waluyo, anggota reksrim Polsek Gambir.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Tahapan sudah sampai penyidikan. Kompol Hendro sebagai Kanit Reskrim menyampaikan ke saya bahwa memang akan dilakukan proses outopsi, dengan izin ataupun tanpa izin keluarga tetap akan dilakukan proses outopsi itu," kata Fayyad di ILC tvOne, Selasa malam, 8 Mei 2018.

img_title Jalan di Monas Dibuka, Polisi Harap Massa Reuni 212 Tak Datang Lagi

Fayyad sempat mempertanyakan, kenapa proses outopsi buru-buru akan dilakukan, sedangkan penyebabkan kematian dari RSUD Tarakan hingga kini belum ada kejelasan.

Fayyad kemudian menyinggung soal pencabutan kuasa terhadap dirinya sebagai kuasa hukum keluarga.  Mengenai keputusan keluarga, dia belum pernah dihubungi oleh keluarga. Karena ada informasi pemberian uang dalam jumlah besar, dia kemudian menghubungi keluarga.

img_title Polisi Ungkap 500 Simpatisan Reuni 212 Sempat Coba ke Monas

"Saya menghubungi Mas Adi dan mengiyakan telah menerima uang sejumlah Rp500 juta yang diterima langsung oleh Ibu Komariah. Diserahakn di salah satu kantor pengacara," katanya.

Uang Rp500 juta itu diantaranya untuk mencabut laporan. Dia menyebut, bahwa apa yang dilakukan saat ini hanya untuk mengungkap fakta yang terjadi sebenarnya.

Dia juga menyinggung soal perebutan kuasa untuk mendampingi keluarga korban yang dilakukan oleh Irfan Iskandar, yang saat ini mendampingi keluarga korban.

"Sesama rekan sejawat bisa melakukan seperti itu. Selain akan membawa tentang mekanisme pencabutan kuasa ini ke ranah kode etik profesi, karena ini menyangkut kode etik advokat," katanya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Sesuai dengan aturan yang berlaku, advokat tidak diperkenankan menarik atau merebut seorang klien dari teman sejawat.

"Itu point penting, jadi saya heran dan tidak habis pikir, sampai saat ini kenapa bisa sampai sejauh itu intervensi dari pihak-pihak yang ada kepentingan dari semua itu," katanya.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut