Ini Surat Lengkap Permohonan Maaf Sekjen Jakmania

Surat permohonan maaf Sekjen Jakmania Febriyanto
Sumber :
  • Bayu Januar

VIVA.co.id - Sekretaris Jenderal (Sekjen) The Jakmania, Febriyanto (37) resmi menjadi tersangka dan ditahan di Polda Metro Jaya. Dia menjadi tersangka dan ditahan lantaran melakukan provokasi jelang pertandingan final Piala Presiden 2015.

Terkait hal ini, Febriyanto melalui kuasa hukumnya, Muhammad Halim, meminta maaf atas kicuannya di media sosial twitter karena malakukan provokasi jelang pertandingan Persib Bandung melawan Sriwijaya FC. Halim menjelaskan, sebenarnya dalam kicauan yang dipersepsikan provokasi tersebut merupakan reaksi beberapa mention yang masuk ke Febri.

Berikut surat permohonan maaf Febriyanto:

Assalamualaikum

Pertama, saya ingin menyampaikan perkenankanlah saya Febriyanto, sekretaris jenderal jak mania untuk memberikan keterangan terkait dengan insiden piala presiden dan proses hukum yang saya hadapi.

Kedua, saya ingin menyampaikan permintaan maaf sebesar-besarnya kepada keluarga, keluarga besar The Jakmania atas proses hukum yang saya hadapi yang membuat ketidaknyamanan atau hal-hal lain yang menyusahkan selama proses hukum berlangsung.

Polisi Rekonstruksi Kericuhan Saat Final Piala Presiden

Saya juga ingin meminta maaf sebesar-besarnya kepada publik Jakarta, Bapak Kapolda dan jajaran Polda Metro Jaya, Gubernur DKI Jakarta dan bagi siapapun yang merasakan ketidaknyamanan dan keresahan atas tweet-tweet saya yang dianggap melakukan provokasi.

Usai Piala Presiden, Arema Krisis Pemain

Dan saya sampaikan, bahwa saya tidak bermaksud untuk melakukan provokasi, saya tidak mengendalikan atau mendesaign insiden-insiden pelemparan yang terjadi dalam kurun waktu pelaksanaa Piala Presiden 2015.

Ridwan Kamil 'Siram' Skuad Persib dengan Bonus Rp500 Juta

Adapun terkait dengan pernyataan saya di twitter, saya dapat sampaikan klarifikasi sebagai berikut:

Pertama, pernyataan saya terkait dengan tolakpersib adalah merupakan bentuk kontribusi dan kritikan saya untuk suksesnya pelaksanaan Piala Presiden 2015, pada saat itu, saya melihat penolakan yang besar dari elemen Jakmania. Sehingga saya berinisiatif untuk mengingatkan betapa tidak kondusifnya jika pelaksanaan piala presiden 2015 di jakarta.

Kedua, saya mengakui bahwa beberapa pernyataan saya dapat menimbulkan persepsi provokatif. Hal ini merupakan kekhilafan saya karena tidak menyadari posisi saya sebagai Sekjen The Jakmania dan sensitifitas isu yang saya tweetkan. Namun demikian, pernyataan saya di tweet yang dapat dipersepsikan provokatif merupakan reaksi terhadap beberapa mention yang masuk ke saya. Sehingga terjadi saling balas membalas (tweet war). Jika ada pernyataan keras. Hal tersebut merupakan emosis sesaat dan bukan merupakan pernyataan sungguhan yang berasal dari dalam hati saya.

Ketiga, dan merupakan hal yang paling penting, saya adalah Bandung dan Bandung adalah saya. Bandung adalah rumah kedua saya, selama kurang lebih 10 tahun saya hidup, belajar dan membina hubungan dengan banyak komunitas di Bandung. Banyak kawan-kawan saya adalah pendukung Persib. Saya tidak mungkin dan tidak ada dalam hati saya untuk mengobarkan kebencian kepada Bandung ataupun Persib.

Saya mengakui persoalan Persib dan Jakmania merupakan persoalan perseteruan yang berakar urat sangat dalam, yang tidak dapat diselesaikan dalam satu malam. Layaknya sebuah kelompok, Jakmania atau Bobotoh ataupun pendukung sepakbola manapun selalu terdapat elemen-elemen garis keras yang terkadang memilih jalan kekerasan untuk mengekspresikan dukungannya kepada tim sepakbola kesayangannya. Hal inilah yang saya coba ingatkan kepada pihak yang berkepentingan melalui pernyataan-pernyataan di tweet saya, saya melihat kondusifitas Piala Presiden 2015 menjadi tidak kondusif untuk dilaksanakan di Jakarta. Pernyataan saya di twitter hanya merupakan sebuah bentuk penyampain aspirasi dari teman-teman Jakmania yang berkeberatan pada pelaksanaan Piala Presiden 2015 untuk diadakan di Jakarta.

Namun lagi-lagi saya harus mengakui kekhilafan saya sebagai sekjen sudah seharusnya peran saya untuk menyampaikan secara proporsional dan melalui jalur yang benar terkait dengan situasi yang ada. Saya juga mengakui sebagai sekjen seharusnya tidak cukup hanya menampung aspirasi teman-teman the jakmania, namun dapat juga dengan bijak mengingatkan dan membina teman-teman untuk menyampaikan aspirasinya secara tertib dan sesuai dengan hukum yang berlaku, walaupun harus saya sampaikan bahwa anggota-anggota the jakmania merupakan organisasi yang tidak dapat dikendalikan secara total oleh struktur organisasi.

Untuk hal-hal tersebut di atas, perkenankanlah sekali lagi untuk menyampaikan permohonan maaf kepada keluarga saya, keluarga besar jakmania, bapak kapolda dan jajarannya, bapak gubernur dan publik jakarta atas ketidakbijakan dan kegagalan saya sebagai sekjen jakmania dalam memberikan pembinaan terhadap para anggota jakmania, terutama terkait dengan pelaksanaan piala presiden 2015.

Saya juga ingin menyampaikan bahwa kepadanya, saya akan berusaha dengan sekuat tenaga untuk embina jakmania menjadi suporter sepakbola yang baim dan tertib dan menjadikan sepak bola sebagai alat pemersatu bukan memecah belah. Lebih khusus, saya juga akan dengan sekuat tenaga dan pikiran untuk mengadakan upaya-upaya rekonsiliasi antara the jak mania dengan bobotoh untuk mengjilangkan segala perseteruan yang ada agar kami sebagai basis suporter terbesar di Indonesia dapat menciptakan iklim persepakbolaan yang kondusif.

Waalaikumsalam Wr Wb
Jakarta, 21 Oktober 2015

Ttd

Febrianto

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya