Prostitusi Kalijodo Dulunya Berawal di Atas Perahu

Ilustrasi/Suasana kehidupan warga di Kalijodo, Jakarta Barat
Ilustrasi/Suasana kehidupan warga di Kalijodo, Jakarta Barat
Sumber :
  • VIVA.co.id/Ikhwan Yanuar

VIVA.co.id – Kalijodo  berada di Kelurahan Pejagalan, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara. Ia terletak tidak jauh dari BW Hotel di Grogo l dan berada di sepanjang sungai Ciliwung.  Akses menuju daerah ini bisa ditempuh dengan menyusuri jalanTubagus Angke.

Nama Kalijodo di Kelurahan Angke, Jakarta Barat, sudah ada sebelum menjadi tempat lokalisasi pekerja seks komersil (PSK). Nama ini ternyata berhubungan dengan tradisi peh cun dalam budaya tionghoa.

Dalam tradisi China, peh cun adalah tradisi yang diselenggarakan setiap hari 100 penanggalan imlek. Salah satu tradisi dalam perayaan peh cun adalah pesta air. Pesta air itu diikuti oleh muda-mudi laki-laki dan perempuan yang sama-sama menaiki perahu melintasi kali Angke.

Pesta ini menarik para muda-muda yang ingin menyaksikan beragam keramaian, seperti barongsai dan pesta ngibing diiringi gambang keromong. Banyak Tionghoa kaya  yang menjadi sponsornya.

Setiap perahu akan berisi tiga sampai empat laki-laki atau perempuan. Di perahu tersebut, si laki-laki akan melihat ke perahu yang berisi perempuan. Jika laki-laki senang dengan perempuan yang ada di perahu lainnya ia akan melempar kue yang bernama Tiong Cu Pia. Kue ini terbuat dari campuran terigu yang di dalamnya ada kacang hijau.

“Bagi perempuan yang ditaksir jika ia senang ia akan melemparkan kue sejenis ke arah laki-laki yang menyukainya. Dari sinilah kemudian kawasan ini berubah menjadi Kali Jodo karena menjadi kawasan untuk mencari jodoh,” ujar Yahya Andi Saputra, budayawan Betawi.

Berbeda dengan saat ini, di masa itu kali Angke masih jernih.  Tradisi ini meski dilakukan oleh etnis Tionghoa, tetapi masyarakat umum tetap memadati kali Angke untuk melihat perayaan tersebut.