- Dr. Daryono.
Dalam buku “Peta Sumber Gempa dan Bahaya Gempa Indonesia” yang disusun Pusat Studi Gempa Nasional – PusGen (2017), disebutkan banyak wilayah Indonesia yang memiliki potensi gempa besar.
Berikut ini adalah potensi gempa besar dan nama sumber gempa megathrust: M=9,2 (Aceh-Andaman), M=8,9 (Mentawai-Pagai, Mentawai Siberut), M=8,7 (Jatim. Jateng-Jabar, Selat Sunda, Nias-Simeulue, Papua), M=8,5 (Sumba, Sulawesi Utara), M=8,4 (Enggano), M=8,2 (Filipina-Halmahera).
Potensi magnitudo gempa megathrust sebaiknya disosialisasikan kepada seluruh lapisan masyarakat. Hasil kajian tersebut sudah menjadi standar nasional, sehingga masyarakat berhak tahu. Kita harus membuat masyarakat tidak awam dengan potensi dan sumber gempa di daerahnya supaya mampu merencanakan mitigasinya.
Jika masyarakat kita paham dan mengerti, maka tidak ada lagi yang “kagetan” kemudian panik saat pakar menginformasikan potensi gempa dan tsunami.
Seluruh aktivitas gempa yang bersumber di zona megathrust dapat disebut sebagai gempa megathrust. Gempa megathrust tidak selalu berkekuatan besar. Sebagai sumber gempa, zona megathrust dapat membangkitkan gempa dalam berbagai variasi magnitudo dan kedalaman. Data menunjukkan, justru “gempa kecil” yang tidak berpotensi merusak lebih sering terjadi. Namun demikian, zona megathrust juga berpotensi membangkitkan gempa kuat.
Meskipun kajian ilmiah mampu menentukan potensi magnitudo maksimum gempa megathrust, akan tetapi hingga saat ini teknologi belum mampu memprediksi dengan tepat dan akurat kapan dan dimana gempa akan terjadi. Maka dalam ketidakpastian ini, yang perlu dilakukan adalah upaya mitigasi dengan menyiapkan langkah-langkah kongkrit untuk meminimalkan risiko kerugian sosial ekonomi dan korban jiwa seandainya gempa benar terjadi.
“Eforia” megathrust sebaiknya secara perlahan-lahan diakhiri, karena sumber gempa ini tampaknya sudah “didewakan” oleh masyarakat. Seolah-olah megathrust sebagai satu-satunya sumber gempa yang patut ditakuti dan diwaspadai. Padahal tidak demikian, sumber gempa lain yang bersumber dari sesar aktif juga seharusnya lebih diwaspadai karena keberadaanya yang berdekatan dengan tempat tinggal kita. Sementara sumber gempa megathrust lokasinya malah lebih jauh di tengah lautan.
![]()
Foto: Sumber gempa sesar aktif
Ditinjau dari frekuensi kejadian gempa merusak, maka sumber gempa sesar aktif lebih sering terjadi dan menimbulkan kerusakan dan korban jiwa daripada sumber gempa megathrust yang sebenarnya lebih jarang terjadi. Buku Pusgen (2017) menyebutkan sumber gempa segmen megathrust berjumlah 16 segmen, sementara jumlah segmen sesar aktif kita mencapai lebih dari 295 sesar aktif.