- Dr. Daryono.
Namun demikian, hasil monitoring BMKG memang menunjukan adanya klaster yang mencolok terkait adanya peningkatan aktivitas seismik, yaitu (1) zona selatan Bali dan Banyuwangi, (2) zona Cilacap dan pangandaran, (3) Selat Sunda. Karena itu, BMKG akan terus memonitor aktivitas seismik yang terjadi khususnya pada tiga zona diduga aktif tersebut dan hasilnya akan segera diinformasikan kepada masyarakat.
Jika kita mencermati peristiwa gempa besar di seluruh dunia, memang dapat diamati gempa pendahuluannya. Fakta ini dapat kita lihat sebelum peristiwa gempa Aceh 2004, gempa Tohuku 2011, dan gempa Chili 2014. Semua gempa besar ini didahului oleh serangkaian gempa pendahuluan.
Perjelasan terkait gempa pendahuluan tampaknya diperlukan agar tidak terus menjadi tanda tanya yang menggelayuti masyarakat. Dari beberapa hasil kajian, kita juga dapat mengidentifikasi beberapa karakteristik aktivitas gempa pendahuluan.
Pertama, gempa pendahuluan biasanya terjadi di zona dengan nilai "B-value" rendah. Nila "B-velue" rendah artinya di zona itu masih menyimpan tegangan yang tinggi, yang berpotensi terjadi gempa besar.
Kedua, di zona tersebut ada fenomena migrasi percepatan titik hiposenter yang semakin cepat menuju titik inisiasi lokasi estimasi gempa utama. Selain itu juga teridentifikasi adanya "repeating earthquakes.
Ciri gempa ini berulang-ulang dan terjadi di segmen tersebut. Secara sederhananya, ini menunjukkan ada sebuah proses yang semakin lama semakin intensif sebelum muncul gempa utamanya (mainshock).
Aktivitas ini mirip kalau kita mematahkan kayu, perlahan-lahan ada retakan-retakan kecil sebelum benar-benar terpatahkan. Tetapi apakah fenomena rentetan gempa akhir-akhir ini sudah mengarah tanda-tanda seismisitas mengarah ke arah sana?
Hal ini juga masih sulit dijawab karena data aktivitas gempa yang terjadi belum cukup untuk disimpulkan. BMKG akan terus melakukan monitoring dengan fokus di zona-zona duga aktif tersebut di atas.
Pengamatan polanya dilakukan secara spasial dan temporal. Satu hal yang penting diingat bahwa tidak semua klaster aktif akan berujung kepada terjadinya gempa besar. Meskipun setiap gempa besar selalui di dahuli aktivitas gempa pedahuluan.
Jakarta, 12 Agustus 2019
(Ditulis oleh: Kepala Bidang Mitigasi Gempabumi dan Tsunami BMKG, Dr  Daryono)