Logo BBC

Cucu-cucu Pahlawan Revolusi dan Elite PKI Bicara soal Sejarah

(Kiri dan tengah): Samuel Panggabean dan Sifra Panggabean, cucu Mayor Jenderal TNI Anumerta D.I. Pandjaitan. (Kanan): Fico Fachriza, cucu Murad Aidit, adik pemimpin PKI, D.N. Aidit.-BBC INDONESIA/ANINDITA PRADANA
(Kiri dan tengah): Samuel Panggabean dan Sifra Panggabean, cucu Mayor Jenderal TNI Anumerta D.I. Pandjaitan. (Kanan): Fico Fachriza, cucu Murad Aidit, adik pemimpin PKI, D.N. Aidit.-BBC INDONESIA/ANINDITA PRADANA
Sumber :
  • bbc

Sifra Panggabean mengatakan memilih cara resolusi konflik "yang tak membuka luka lama" terkait insiden `65 itu.

"Karena semua terluka dalam kejadian ini. Baik dari keluarga aku, mamaku, om, tanteku."

Ia mengatakan hal itu bisa dimulai dari generasinya, yang disebutnya tak lagi membeda-bedakan siapa keturunan orang yang dulu berafiliasi dengan PKI.

"Kita nggak akan mewariskan konflik untuk membenci...

"Kita bisa jadi bangsa bermartabat dengan menunjukkan bahwa kita saudara. Kita dalam satu negara ini `aku dan kamu` sama," ujarnya.

Hal yang senada dicetuskan Fico.

"Tanpa mengurangi rasa hormat dan perasaan-perasaan pribadi orang terhadap masalah itu... menurut saya tidak usah diperpanjang.

"Mari kita bahu membahu bekerja, mensejahterakan bangsa," pungkasnya.

`Tak lagi bisa satu versi`

Andi Achdian, sejarawan dari Universitas Nasional, Jakarta, mengatakan peristiwa `65 tak bisa lagi dipandang satu versi, yakni yang disebutnya selama puluhan tahun dikembangkan oleh Orde Baru.

Versi itu terkait sejumlah perwira tinggi yang meninggal oleh PKI.

Di satu sisi, ada juga penelitian yang mengatakan ratusan ribu orang meninggal akibat tragedi `65, hal yang menurut Andi membuat tragedi ini harus "dipahami dari berbagai sudut dan pandangan".

Menurut Andi, narasi yang tunggal tak lagi bisa diterima sejumlah anak muda atau milenial.

"Satu versi cerita itu tidak bisa lagi ditampilkan dalam satu versi seperti pada dekade-dekade sebelumnya dengan keterbukaan informasi sekarang.

"Menurut saya akan lebih baik melihatnya sebagai satu peristiwa sejarah dengan pembahasan historiografi, ada satu versi, ada versi lain, dan bagaimana kita bisa menarik kesimpulan dari berbagai versi," ujarnya.

Ia mengatakan dialog mengenai sejarah ini harus dilakukan agar anak muda tak memiliki wawasan "sepotong-sepotong" mengenai kasus ini.