Logo BBC

Cucu-cucu Pahlawan Revolusi dan Elite PKI Bicara soal Sejarah

(Kiri dan tengah): Samuel Panggabean dan Sifra Panggabean, cucu Mayor Jenderal TNI Anumerta D.I. Pandjaitan. (Kanan): Fico Fachriza, cucu Murad Aidit, adik pemimpin PKI, D.N. Aidit.-BBC INDONESIA/ANINDITA PRADANA
(Kiri dan tengah): Samuel Panggabean dan Sifra Panggabean, cucu Mayor Jenderal TNI Anumerta D.I. Pandjaitan. (Kanan): Fico Fachriza, cucu Murad Aidit, adik pemimpin PKI, D.N. Aidit.-BBC INDONESIA/ANINDITA PRADANA
Sumber :
  • bbc

Ia menceritakan kakeknya saat itu belajar di Rusia dengan uang dari kakaknya, DN Aidit, kemudian dipanggil pulang, "katanya mau dijadikan menteri".

Namun, alih-alih jadi menteri, saat di bandara Jakarta, Murad ditangkap. Ia dibawa ke Bogor kemudian dipindahkan ke Bandung.

"Pas perpindahan di jalan (para tahanan) disuruh pipis. Instingnya (kakek saya) `jangan pipis`.

"Teman-temannya yang pada pipis ditembakin dan [petugas] laporan ke atas `mereka coba kabur`... Keras juga ya."

Fico mengatakan setelah mendengar itu ia tak merasa malu atau kesal pada kakeknya yang mempunyai predikat sebagai tahanan politik.

"Nggak (kesal atau malu). Saya kesal sama negara lah...Gila, kakek saya nggak salah, diadilin juga nggak. Cuma main ditahan-tahan aja.

"Pas terbukti nggak bersalah, nggak ada ganti rugi apa-apa juga. Wah gila negara, gila nih," kata Fico sambil tersenyum mengingat apa yang dia pikir saat itu.


Apa kata generasi kedua?

Riri Pandjaitan, putri bungsi DI Pandjaitan, masih berusia delapan tahun saat ayahnya ditembak di rumah keluarga mereka di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Ia bercerita, ia dan kakak-kakaknya sudah tidur di kamar masing-masing ketika sepasukan orang datang dan meminta ayahnya keluar rumah.

Tak lama, tembok rumah dihujani peluru, merusak lukisan, dan sejumlah perabotan di rumah, yang hingga kini masih dapat dilihat bekasnya.

Di bawah sebuah pohon di rumahnya, Riri bercerita ayahnya minta diberikan waktu untuk berdoa sebelum dieksekusi.

Lalu terdengar suara tembakan, yang tak hanya sekali, menghabisi nyawa ayahnya.

"Darah kental itu dilihat sama kita. Saya saat itu delapan tahun, nggak ngerti kenapa ayah saya dibunuh. Rusak jiwa saya," ujarnya.

Keadaan itu memaksanya menjadi dewasa di usia yang sangat dini.

Trauma itu terus membekas bertahun-tahun, kata Riri, membuatnya menjadi sosok yang pemberontak.