DPR Jelaskan Urgensi UU Pekerja Rumah Tangga

Ketua DPP Nasdem, Willy Aditya
Sumber :
  • VIVA/ Riyan Rizki Roshali

VIVA Nasional – Wakil Ketua Badan Legislasi (Baleg) DPR RI Willy Aditya menjelaskan urgensi kehadiran Undang-Undang Perlindungan Pekerja Rumah Tangga (UU PPRT) yang bertujuan sebagai payung hukum untuk melindungi pekerja rumah tangga dari eksploitasi, diskriminasi, penindasan, dan ketidakadilan.

img_title Revisi UU Peradilan Militer Tak Perlu Tunggu 2 Tahun, Komisi I DPR Tegaskan TNI Tunduk Putusan MK

Politikus Nasdem itu lantas mendorong Rancangan Undang-Undang (RUU) PPRT segera menjadi usul inisiatif DPR, agar bisa dibahas DPR bersama pemerintah dan disetujui menjadi undang-undang. Selain itu, Willy menjelaskan selama ini pekerja di ranah sosial dan domestik tidak pernah mendapatkan statusnya, namun hanya diatur keberadaannya di level Peraturan Menteri Tenaga Kerja (Permenaker).

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Artinya pekerja rumah tangga membantu kesuksesan dan keberlangsungan proses produksi bagi pemberi kerja. Tidak ada karier majikan sukses tanpa ada peran pekerja rumah tangga," kata Willy dalam keterangan tertulis diterima awak media, Jumat, 4 November 2022.

img_title Polemik Konser Andrea Bocelli, BKSAP DPR Singgung Isu Palestina: Bukan Menolak Seni atau Bangsa Tertentu

Ilustrasi pembantu rumah tangga.

Photo :
  • VIVAnews/Nurcholis Anhari Lubis

RUU PPRT, menurutnya, sangat mendesak karena pekerja rumah tangga adalah orang yang berkontribusi pada proses produksi dalam sebuah rumah tangga pemberi kerja. Ditegaskan Willy, RUU PPRT sangat penting karena UU nomor 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan belum mengatur terkait pekerja rumah tangga, dan yang mendapatkan hak hanya pekerja di sektor formal, barang serta jasa.

img_title Kapal Asal Malaysia Bawa 1,16 Ton Ketamin, Dasco Tegaskan Jaga Generasi Muda

Willy mengatakan dalam UU Ketenagakerjaan, pekerja yang mendapatkan hak dan perlindungan adalah yang bekerja di sektor formal. Sementara PRT bekerja di sektor informal, lanjutnya, belum ada payung hukum setingkat undang-undang untuk melindunginya.

"Karena itu perlu diatur tersendiri, posisinya memberikan perlindungan bagi warga negara. Perbedaan pekerja formal dengan 'domestic labour' adalah fleksibilitas terkait jam kerja, jenis kerja, hubungan kerja, dan upah kerja," kata Willy.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Selain itu, Willy menambahkan, bahwa RUU PPRT sudah disusun sejak lama dengan melibatkan banyak pihak antara lain para sosiolog, ahli hukum, dan aktivis buruh. Dia pun menjelaskan fleksibilitas menjadi kekuatan bagi pekerja rumah tangga karena tidak terserap di lapangan kerja formal.

Lebih lanjut diterangkannya, dalam RUU PPRT terdiri dari dua klaster, pertama PRT yang direkrut berdasarkan asas kekeluargaan yaitu tanpa jasa penyalur sehingga basisnya adalah sosiokultural.Kedua yakni rekrutmen PRT melalui penyalur dengan disertakan kontrak kerja yang dijelaskan secara rinci, dan sudah diatur dalam RUU PPRT agar tidak terjadi perdagangan orang.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut