Menggandeng Pemulung Naik Kelas
- VIVA.co.id/ Lis Yuliawati
Jakarta – Perasaan cemas menyelimuti Siti Salamah. Ia khawatir dengan situasi di tempat yang baru akan dikunjungi itu. Meski takut, niat wanita berhijab tersebut tak surut. Seraya terus berdoa, dia tetap melangkahkan kaki seirama suara hati.
Adalah lapak pemulung di daerah Warung Jengkol, Pondok Aren, Tangerang Selatan yang dituju Siti. Tiba di lokasi, relawan ini langsung menemui bos lapak. Dia menyampaikan tujuannya untuk mengajar anak-anak pemulung di sana.
Gayung bersambut. Keinginan Siti mendapat respons positif dari bos lapak dan warga di lokasi itu. Dia lantas diizinkan untuk mengajar di sebuah musala di sana. Mendapat sambutan baik, ketakutan Siti langsung sirna.
Momen yang terjadi pada Maret 2015 itu masih melekat dalam benak Siti. “Itu aku benar-benar nekad dari tempat kerja di Bintaro. Jalan ke sana berdoa terus. Jujur aku takut pemulung. Pas aku datang, enggak ada kayak gitu,” ujar Siti saat ditemui VIVA di rumahnya, di kawasan Pondok Aren, Tangerang Selatan, Senin, 9 Oktober 2023.
Siti Salamah, relawan sekaligus penggerak pengelolaan sampah Wastehub.
- VIVA.co.id/ Lis Yuliawati
Semula, Siti tak terpikir untuk mengajar di lapak pemulung tersebut. Tiba-tiba seorang kawan memberitahu soal permukiman itu. Sang teman yang tak berhasil menembus tempat tersebut lantas menawarkan Siti untuk mengajar di sana. “Enggak nyangka juga bisa diterima dengan baik. Teman aku mental,” kata Siti.
Saat awal mengajar merupakan masa-masa yang sulit bagi Siti. Anak-anak di lapak tersebut masih susah untuk diajak belajar. Dia berusaha pelan-pelan memberi pengertian tentang pentingnya pendidikan kepada mereka. Dia mulai dengan mengajar mengaji.
Siti memberi nama tempat belajar itu Taman Magrib Mengaji. Saban hari sepulang kerja, dia mengajar di sana tanpa dibayar. Ada sekitar 20 anak dari mulai usia 5 tahun hingga setingkat anak SMP yang mengikuti pendidikan nonformal di kelas tersebut. Lantaran banyak anak yang putus sekolah, Siti berinisiatif menghubungi home schooling Kak Seto, di kawasan Parigi, Tangerang Selatan, agar mereka bisa melanjutkan pendidikan secara gratis di sana.
Langkah Siti tak mulus. Formulir sekolah yang disodorkan kepada orang tua muridnya tak semua diterima. Ada yang disobek, ada pula yang dibuang. Itu semua tak membuat Siti patah arang. Dia terus berusaha membantu anak-anak pemulung untuk mendapatkan pendidikan.