SBY: AdaTiga Opsi Pemindahan Ibukota

Sumber :
  • Biro Pers Istana Presiden/Abror Rizki

VIVAnews - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyadari kemacetan menjadi permasalahan utama di Jakarta. Penambahan kendaraan bermotor yang mencapai 15 persen tidak sebanding dengan pertambahan jalan yang hanya 0,01 persen.

Menyadari kemacetan yang sedemikian parah di Jakarta yang merupakan ibukota negara, Presiden kemudian memikirkan tiga opsi terkait memindahkan Ibukota dari Jakarta.

Hal ini diungkapkan Presiden saat buka puasa bersama Kamar Dagang dan Industri (KADIN) di Jakarta, 3 September 2010. "Opsinya ada tiga," kata Presiden.

Pertama, benahi Jakarta dengan membangun segala prasarana dan sarana transportasi yang masih di permukaan, di bawah permukaan, dan di atas permukaan.  "Semua problematik, tapi kalau solusinya pertahankan Jakarta sebagai ibukota sekaligus pusat pemerintahan, maka solusinya adalah mengatasi kemacetan Jakarta."

Kedua, SBY mengakui diam-diam terinspirasi dengan Malaysia yang membuat Putrajaya sebagai pusat pemerintahan, dan terletak tidak jauh dari Ibukota, di Kuala Lumpur. "Ibukota Malaysia tetap Kuala Lumpur, pusat pemerintahan di Putrajaya," ucap SBY.

Namun, jika ingin membangun pusat pemerintahan baru harus disiapkan dengan baik. "Tentu well planned, well designed, kemudian kita hitung keindahan aspek lingkungan."

Malaysia membutuhkan waktu 5 - 7 tahun untuk membangun  Putrajaya. Dana yang dihabiskan sekitar Rp 80 triliun.