Menyulap Facebook Jadi Beasiswa
- VIVA.co.id/Zulfikar Husein
Dua bulan kemudian, dari statusnya itu ia berhasil mengumpulkan dana hampir Rp30 juta. Dana itu kemudian digunakannya untuk membangun rumah layak huni untuk keluarga mungil di daerah terpencil dan tertinggal di Aceh Utara tersebut.
Tak hanya rumah, Edi juga menemukan donor yang mau memberikan beasiswa untuk Sani, agar ia bisa melanjutkan sekolahnya lagi. Sebuah lembaga yang beralamat di Jakarta bersedia menjadi orangtua asuh bagi Sani Saputri.
![]()
FOTO: Sani Saputri bersama rekan kelasnya saat belajar Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 1 Lhokseumawe/Zulfikar Husein
Sejak saat itu, Edi menggagas program beasiswa yang diberi nama GMB-Mari Sekolah, yang kemudian disederhanakan menjadi Gerakan Mari Sekolah (GMS). Semua anak dan donornya ditemukan Edi melalui facebook.
“Mulai dari situlah, kemudian beberapa teman di FB menginboks saya dan mengajukan sejumlah anak yang putus sekolah, anak miskin dan sebagainya, lalu saya carikan donor dengan menggunakan fb juga,” ujar Edi, saat ditemui VIVA.co.id, disebuah kedai kopi di Banda Aceh.
Semua anak yang diajukan tersebut katanya, ditampung dan akan diusahakan untuk mendapatkan beasiswa. Sementara itu, yang mengajukan ia wajibkan pendamping yang bertugas untuk mendampingi si ana,k agar benar-benar memanfaatkan beasiswa sebaik mungkin.
Tidak sulit bagi Edi untuk mencarikan donor bagi si anak. Ia cukup menulis cerita dan mengunggah foto si anak ke akun facebook-nya, lalu sejumlah donor menawarkan diri mereka untuk menjadi orangtua asuh si anak.
“Banyak donor yang mengajukan dirinya ke saya untuk menjadi orangtua asuh, mereka biasa mengirimkan pesan lewat inbox setelah membaca status-status saya, bahkan kadang kita sudah punya donornya baru kemudian kita mendapati anak-anaknya,” katanya.
Selain facebook, ia juga memanfaatkan media sosial lain seperti layanan blackberry messenger dan WhatsApp. Hampir semua komunikasi termasuk memberi laporan perkembangan beasiswa dan anak menggunakan media sosial tersebut.
Saat ini, gerakan yang dimotori melalui media sosial facebook itu, sudah memberi beasiswa sebanyak 147 anak yang tersebar di tujuh kabupaten/kota di Aceh. Mulai dari Aceh Utara, Kota Lhokseumawe, Kabupaten Aceh Timur, Langsa, Bireuen, Aceh Besar, dan Banda Aceh.