Menyulap Facebook Jadi Beasiswa
- VIVA.co.id/Zulfikar Husein
GMS memiliki penerima beasiswa, di mana di antaranya 70 orang di antaranya siswa SD, 50 siswa SMP, dan 27 orang siswa SMA sederajat. Setiap anak memperoleh jumlah beasiswa beragam, mulai dari Rp130.300 hingga Rp250 ribu per anak.
Sementara itu, jumlah pendonor yang tercatat mencapai 80 orang yang berasal dari berbagai daerah dan pendamping lebih dari 50 orang. “Pendonor ada dari Aceh sendiri, ada yang dari Jakarta dan sejumlah tempat di luar Aceh, bahkan ada yang dari luar negeri seperti Malaysia, juga ada dari Qatar,” jelas Edi.
Ribuan anak Aceh putus sekolah
Tahun 2015, buku analisis kinerja Pendidikan Provinsi Aceh mencatat sebanyak 2.295 anak Aceh tidak sekolah, atau putus sekolah. Dari lima juta jiwa jumlah total penduduk Aceh, sebanyak 21,26 persen dari jumlah tersebut merupakan anak usia sekolah antara 7 - 18 tahun.
Padahal, saat ini biaya pendidikan di paling barat di Indonesia itu sudah gratis. Kemudian, dana untuk pendidikan di provinsi yang pernah dilanda konflik hingga 30 tahun lamanya itu cukup fantantis. Sebesar 20 persen dari total belanja anggaran baik di tingkat provinsi maupun di tingkat kabupaten/kota dialokasikan untuk pendidikan.
Selain itu, dana melimpah untuk pendidikan juga diperoleh dari hak otonomi khusus (otsus) dan bagi hasil minyak dan gas. Aceh juga memperoleh dana otonomi khusus (otsus), di mana sejak 2008 hingga 2015, Aceh telah mengelola dana otsus mencapai Rp42,2 triliun, dan tahun ini Rp7,7 triliun.
![]()
FOTO: Salah seorang siswa miskin penerima bantuan pendidikan di Aceh menyampaikan ucapan terima kasihnya kepada pemberi bantuan lewat jejaring sosial facebook/Zulfikar Husein/Facebook
“Keprihatinan menjadi dasar untuk menginisiasi ini. Keprihatinan, artinya kita bisa sekolah, tetapi ada anak-anak yang tidak bisa sekolah, kita bahkan bisa mendapat akses untuk minimal tamat sarjana. Tetapi, ada anak-anak kita hari ini yang sekolah saja tidak bisa, dan harusnya sekarang mereka itu bisa bersekolah,” ujar Fadhil.
Salah seorang donor GMS, Nunik Eka Sari mengatakan, ia tertarik menjadi salah seorang donor GMS, karena turut prihatin dengan kondisi anak-anak yang kehilangan kesempatan untuk sekolah. Setelah membaca status Edi Fadhil di facebook, ia merasa terdorong untuk membantu anak-anak tersebut.