Menyulap Facebook Jadi Beasiswa

Edi Fadhil, penggagas program beasiswa Gerakan Mari Sekolah (GMS) di Facebook bersama Sani Saputri dan ibunya di rumah Sani sebelum diperbaiki.
Sumber :
  • VIVA.co.id/Zulfikar Husein

Ia sudah berputus asa untuk berharap bisa masuk sekolah SMA. Dia tak berani bermimpi dan mengubur dalam-dalam harapannya untuk bisa melanjutkan sekolah. Ia ingin bahagia merasakan masa-masa SMA seperti anak-anak lainnya.

img_title Meta Platform PHK Ratusan Karyawan, 5 Divisi Ini Jadi Target Utama

Sani lahir di Lhok Gajah, Sawang, Kabupaten Aceh Utara, pada 26 Juli 1999. Ia anak pertama dari pasangan Habibullah yang merupakan seorang muallaf dan Marjannah. Sebelum pindah ke rumah adik ibunya di Hagu barat Laut Lhokseumawe, ia bersama adiknya Muhammad Wali Alkhalidi (7 tahun) tinggal di sebuah rumah yang lebih layak disebut gubuk.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Atap rumahnya bocor, dinding menggunakan pelepah rumbia dan lantainya tanah. Tak punya ruang tamu, ruang keluarga, dapur atau bahkan kamar tidur. Gubuk kecil itu adalah ruang serbaguna yang mereka gunakan untuk menyambut tamu, memasak, hingga merebahkan diri saat malam tiba.

img_title Penipuan Jual Mobil Bekas Lewat Facebook Masih Mengintai

Facebook mengubah hidup Sani

Kini, harapan yang sempat ia kubur kembali hadir. Ia sudah bisa mengenakan seragam putih abu-abu dan bersekolah di salah satu sekolah kejuruan favorit di Kota Lhokseumawe. Di sekolah, Sani menjadi salah satu anak berprestasi.

img_title Meta Indonesia Ungkap AI bikin Iklan Makin Nempel, Pengguna Facebook dan Instagram Naik Tajam

“Anaknya rajin, dia termasuk anak yang aktif, tetapi tidak terlalu unggul. Mungkin, karena anaknya pendiam dan mungkin karena malu juga,” ujar Sulaiman, salah seorang guru Sani untuk mata pelajaran Akuntansi.

Cerita baru dalam kehidupan Sani mulai berubah ketika seorang pemuda bernama Edi Fadhil, membantunya untuk sekolah melalui media sosial facebook. Tak hanya sekolah, tetapi facebook yang dimanfaatkan pemuda tersebut juga membantu mengganti gubuknya menjadi rumah layak huni.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Pada 6 Juni 2015, Edi Fadhil, memfoto dan mem-posting rumah gubuk Sani ke dalam aku facebook miliknya. Pada kolom status, ia menulis cerita tentang Sani dan keluarganya. Edi juga menceritakan bagaimana saat itu Sani sedang menganggur, karena tak bisa melanjutkan sekolah.

Pada bagian akhir ceritanya, ia menantang sahabat dunia mayanya untuk membantu pembangunan rumah keluarga miskin tersebut. Statusnya diberi judul ‘1 like dan koment = Rp.100.000’. Siapa yang me,beri tanda like atau komentar, ia wajibkan untuk menyumbang minimal sebesar Rp100 ribu.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut