Menyulap Facebook Jadi Beasiswa
- VIVA.co.id/Zulfikar Husein
“Diawal-awal, bang Edi itu kasih kayak hasil survei gitu di FB, tentang anak-anak ini, kondisi rumahnya gimana, kondisi keluarganya gimana. Jadi, pas lihat kondisi seperti itu, jadi memang berasa kasihan butuh bantuan ini,” kata Nunik.
Menurut Nunik, GMS sejauh ini dipandang sebagai salah satu program yang cukup bermanfaat. Penggunaan media sosial juga disampaikan Nunik sebagai salah satu terobosan baru, bagaimana memperbanyak kegiatan positif di media sosial.
Aktivis Information and Communication Technology, atau ICT Watch, Tjatur Heru mengatakan, apa yang dilakukan Edi Fadhil adalah bagian mengisi konten positif di media sosial. Sebelumnya, kata Tjatur, kasus-kasus pornografi dan penculikan anak lewat facebook, membuat masyarakat beranggapan bahwa internet itu berbahaya.
Untuk mendorong dampak positif internet, katanya, ada tiga prinsip internet sehat yang bisa dilakukan. “Menumbuhkan konten lokal yang positif, bermanfaat dan menarik bagi anak, melakukan self filtering pada tingkat keluarga di rumah dan pendidikan di sekolah, lalu yang terakhir melakukan dialog dan kerja sama inklusif, sinergis, dan setara untuk tata kelola internet,” katanya.
Melalui facebook, GMS berperan sebagai pihak yang menjembatani antara orang-orang kaya dan orang miskin. “Kita berada di tengah untuk memfasilitasi, orang yang ada duit jadi donor, anak yang putus sekolah jadi penerima manfaat, kita ada di tengah sebagai orang yang menjembatani begitu posisinya,” kata Fadhil.
Saat ini, beberapa anak yang sejak SMP mendapat GMS sudah SMA. Beberapa anak yang pernah satu sampai dua tahun putus sekolah, memperoleh nilai ujian di atas rata-rata kelas. Anak-anak yang dulunya hampir kehilangan kesempatan untuk sekolah, kini justru berprestasi di sekolahnya.
“Terbukti, selama ini adik-adik hanya belum beruntung untuk mendapatkan kesempatan untuk bersekolah. Begitu kesempatan itu datang, Alhamdulillah mereka buktikan bahwa mereka adalah anak-anak yang hebat,” ujarnya sumringah.
Facebook menjadi awal langkah dara yang lahir di pelosok Aceh Utara bisa membuka pintu harapannya. “Sani sangat senang bisa sekolah lagi, Sani ingin membahagiakan ayah sama mama. Sani juga ingin seperti anak-anak lain yang bisa sekolah. Setelah lulus nanti Sani ingin bekerja di bank dan bisa membantu biaya sekolah adik, biar adik tidak sempat menganggur seperti Sani,” harapnya. (asp)