Pasar Ateh di Bukittinggi Sudah Ada sebelum Era Kolonial
- Wikipedia
VIVA – Pasar Atas atau Pasar Ateh di Kota Bukittinggi, Sumatera Barat, kebakaran hebat pada Senin pagi, 30 Oktober 2017. Api dapat dipadamkan sekira enam jam kemudian atau sekira pukul dua belas siang.
Sebanyak 357 dari total 763 unit toko pada pasar terbesar di bekas ibu kota sementara Republik Indonesia itu hangus hingga tersisa arang. Total kerugian materiil ditaksir mencapai Rp1,5 triliun.
![]()
FOTO: Pasar Ateh di Bukitting, Sumatera Barat, setelah kebakaran hebat pada Senin, 30 Oktober 2017. (VIVA/Andri Mardiansyah)
Pasar Ateh memiliki sejarah panjang. Pasar itu bahkan sudah ada sejak sebelum era kolonial, sebelum penjajah Belanda menaklukkan Bukittinggi dan kota-kota strategis lain di Sumatera Barat pada 1818.
Awalnya, penghulu (tokoh adat) Kurai di Bukit nan Tinggi (Bukit yang Tinggi), menggelar aktivitas jual beli yang lazim disebut orang Minangkabau sebagai hari pakan (hari pasar) setiap Sabtu. Ada yang datang dengan berjalan dan ada yang naik bendi.Â
Pasar Ateh lambat laun berkembang kian pesat hingga masyarakat dan tokoh setempat pun bersepakat beraktivitas jual beli tak hanya tiap Sabtu, tetapi juga Rabu. Mereka menjajakan barang dagangannya di atas lapak yang terbuat dari anyaman bambu dan beratap rumbio (ayaman dari daun ilalang).
Dibangun permanen
Sebelum dinamakan Pasa Ateh, kawasan itu disebut Los Galuang, karena hanya berbentuk los. Pada tahun 1972, Pasa Ateh dibangun secara permanen dan selesai tahun 1974.
Pemerintah Kota Bukittinggi menamai resmi pasar itu dengan Pasar Bertingkat Pasar Atas Bukittinggi. Diresmikan langsung oleh Presiden Soeharto.
Sejak itulah Pasar Atas berkembang kian pesat, bahkan menjadi semacam pasar induk di Sumatera Barat. Para pedagang pun tak hanya warga lokal, tetapi juga dari luar Bukittinggi. Nama Pasa Ateh pun kian terkenal.
Meski demikian, ternyata perkembangan Pasar Ateh juga memiliki catatan kelam. Sejak diresmikan pada tahun 1974, tercatat sudah empat kali pasar itu mengalami kebakaran hebat.
Kebakaran pertama sejak diresmikan terjadi pada 1995. Kebakaran dipicu kompor milik salah satu pedagang kopi yang meledak. Semua unit toko ludes dan seorang meninggal dunia.