AHY Bicara Ancaman Prahara Politik dalam Pemilu Presiden 2024

Ketum Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono atau AHY saat mengunjungi KPU
Ketum Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono atau AHY saat mengunjungi KPU
Sumber :
  • VIVA/M Ali Wafa

VIVA Politik – Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) berharap pemilu tahun 2024 dapat menghadirkan kepemimpinan yang membawa perubahan dan kebaikan.

Sebab, kata AHY, hal itu bukan merupakan sebuah keniscayaan, tetapi juga amanah sejarah, lintas generasi, lintas kepemimpinan, sehingga sudah sewajarnya seperti itu. 

“Sebetulnya, bukan masalah dua atau tiga poros lebih baik, atau berapa pun jumlahnya, karena pada akhirnya, kalau kita tidak melihat sumber masalah, maka berapa pun jumlah poros, siapapun yang mengikuti pemilu, maka bisa menimbulkan prahara sekaligus polarisasi,” kata AHY dalam keterangannya, Rabu, 3 Agustus 2022.

Tiga masalah

AHY menilai ada tiga permasalahan demokrasi di Indonesia. Pertama, money politics. 

“Di sini banyak generasi muda, saya juga mengajak, mari kita sama-sama kawal pemilu ini agar tidak terjadi eksploitasi politik uang yang berlebihan, vote buying, ini bahaya, karena hanya mereka yang memiliki uang akhirnya, yang bisa menguasai politik dan pada akhirnya mengawaki negara kita,” kata AHY.

Penghitungan Surat Suara Pemilu 2019. (Foto ilustrasi).

Penghitungan Surat Suara Pemilu 2019. (Foto ilustrasi).

Photo :
  • VIVA/M Ali Wafa

Yang kedua, politik identitas. Menurutnya, ini bukan sesuatu yang baru; memang sejak dulu sudah ada, tetapi jika dieksploitasi secara berlebihan--politik, agama, suku, ras dan identitas lainnya--akan berbahaya. 

“Ini hanya menimbulkan perpecahan di antara kita dan sentimen itu akan diteruskan ke generasi selanjutnya, anak cucu kita, cost-nya terlalu tinggi,” kata AHY.

Terakhir, katanya, politik fitnah, hoax, fake news, black campaign, yang juga selalu menjadi masalah bersama, serta tenggelam dalam tsunami informasi dan sekaligus disinformasi. 

Oleh karena itu, ia menyerukan semua memiliki sebuah mekanisme sebagai bangsa untuk melawan itu semua. Jangan biarkan bangsa Indonesia dihancurkan oleh perilaku buzzer-buzzer yang hanya ingin meruntuhkan persatuan. 

"Kalau kita berkomitmen semua itu, dua pasang, tiga pasang, empat pasang, atau berapa pun, Indonesia tidak akan pecah, dan pemilu kita berkualitas dan Indonesia akan makin maju ke depan,” kata AHY.

Literasi politik

AHY juga kembali menegaskan komitmennya dalam mencegah polarisasi saat Pemilu 2024 nanti. Ia mendorong agar terus membangun literasi politik. Sama seperti yang lain, terutama bagi generasi muda, jumlahnya semakin besar, diperkirakan generasi milenial ditambah dengan generasi Z, termasuk pemilih pemula di dalamnya, akan berada di komposisi 60 persen dari total jumlah pemilih pada 2024.

Kotak suara logistik Pemilu/Ilustrasi.

Kotak suara logistik Pemilu/Ilustrasi.

Photo :
  • ANTARA FOTO/Adeng Bustomi

“Jumlahnya besar, mereka yang paling aktif, dan mereka yang paling dinamis, termasuk di dalam ruang digital democracy. Oleh karena itu, saya ingin terus bersama-sama dengan yang lain, membangun literasi yang tepat,” ujarnya.

AHY menilai bahwa generasi muda Indonesia makin memiliki kecerdasan dalam berpolitik dan berdemokrasi. 

“Yang saya maksud dengan literasi, bukan hanya meningkatkan jumlah partisipasi dalam pemilu, atau hanya dihitung dengan secara kuantitatif dalam aspek voters turn out--itu penting. Saya yakin kita semua akan semakin senang jika semakin banyak yang datang ke TPS, tapi pada akhirnya, demokrasi tidak boleh dihitung hanya dari regularitas penyelenggaraan pemilu. Itu tadi syarat minimal, betul, tetapi bukan hanya dihitung dari jumlah yang datang ke TPS, itu juga salah satu parameter, tetapi, kualitasnya bagaimana? Kualitas dan rasionalitas dari sang pemilih untuk menggunakan haknya, haknya untuk memilih pemimpin. Harapannya tentu kita mengisi ruang itu bersama-sama,” kata AHY.

Dalam kesempatan sama, AHY juga mengajak beberapa pihak, seperti media agar terus mengawal, karena peran media penting dan sentral dalam menjaga demokrasi, dalam menjaga check and balance

“Terakhir, tentu ajakan ini kepada segenap rakyat Indonesia, khususnya generasi muda, yang tadi ternyata berdasarkan hasil survei terakhir, antusiasme anak-anak muda ini meningkat, untuk mengikuti Pemilu 2024. Mudah-mudahan antusiasme tersebut bukan didasari oleh politik uang, politik identitas dan politik fitnah, tetapi karena benar-benar ingin menjadi motor perubahan dan perbaikan menuju Indonesia yang lebih baik di masa depan,” ujarnya.