Kapolri: Cebong vs Kampret Terus Terjadi di Grassroots
- VIVA/Yeni Lestari
Jakarta – Kepala Polri Jenderal Pol. Listyo Sigit Prabowo memberikan arahan kepada seluruh jajaran tingkat pusat maupun wilayah untuk berani menyampaikan pesan dan mengingatkan kepada para peserta Pemilu 2024 agar menjaga persatuan dan kesatuan dan tidak mengorbankan masyarakat karena perbedaan hasil pemilihan.
“Setiap saat kita bertemu dengan para calon-calon pemimpin nasional, selalu kita ingatkan jangan korbankan rakyat. Jadi, rekan-rekan harus berani menyampaikan hal yang sama kepada teman-teman, rekan-rekan, yang mungkin nanti ikut dalam kontestasi,” kata Sigit saat memberikan pengarahan dalam kegiatan Upacara Wisuda STIK Tahun Ajaran 2023 di Lemdiklat Polri, Jakarta, yang disaksikan lewat tayangan YouTube, Rabu, 21 Juni 2023.
Sigit memaparkan bagaimana kondisi bangsa saat pemilu serentak pertama kali dilaksanakan pada tahun 2019. Terdapat 5.175 petugas TPS sakit, dan 894 orang meninggal termasuk di dalamnya anggota polisi.
Anggota KPPS mengecek surat suara saat sesi penghitungan suara Pemilu serentak 2019. (Foto ilustrasi)
- ANTARA FOTO/Andika Wahyu
Oleh karena itu, Sigit mengingatkan agar Pemilu 2024 ini dipersiapkan dengan baik, jangan sampai kejadian di Pemilu 2019 kembali terulang.
Perbedaan merupakan keniscayaan, katanya, tetapi persatuan dan kesatuan tetap harus dijaga.
Mantan kepala Bareskrim Polri itu mengatakan polarisasi setelah Pemilu 2019 masih terasa hingga sekarang. Padahal sebelumnya, Indonesia adalah negara dengan polarisasi paling rendah di Asia Tenggara. Hal itu bisa dilihat di media sosial, julukan cebong, kampret dan kadrun masih bergema, entah apa lagi yang muncul tahun ini.
Menurut Sigit, di tingkat masyarakat di akar rumput polarisasi itu masih terjadi. Hal ini berbeda di tingkat elite politik, saat situasi dapat berubah cepat: sebelumnya saling serang, sejurus kemudian berbaikan.
Demo di depan Bawaslu kembali bentrok.
- VIVA/Muhamad Solihin
“Kalau rekan-rekan lihat di medsos ada cebong, ada kampret ada kadrun, terus sekarang apa lagi? Jadi, itu terus terjadi di grassroots (masyarakat di tingkat akar rumput atau bawah). Mungkin di elite itu segera mudah: hari ini berantem besok salaman, rangkul-rangkulan; tapi di bawah tidak,” katanya, mengingatkan.
Mantan kepala Polda Banten itu mengatakan bahwa dinamika perpolitikan seperti di atas tanpa disadari mengorbankan nilai-nilai di masyarakat Indonesia yang dikenal ramah, persaudaraan yang tinggi, menghormati keberagaman, menjaga persatuan dan kesatuan, hal itu mulai luntur.