PSI Sebut Pidato Anies 'Devide et Impera' Model Baru
- VIVA.co.id/ Fajar Ginanjar Mukti
Anies Baswedan sendiri pernah dicap sebagai salah satu intelektual yang mencitrakan diri sebagai “tokoh pluralis” dan cinta keberagaman. Ini terlihat dari keaktifan Anies mendirikan beberapa gerakan sosial yang mengajak anak-anak muda terlibat dengan landasan pemikirannya soal “Tenun Kebangsaan." Rian menyesalkan istilah usang ini keluar dari mulut Anies Baswedan, Gubernur DKI Jakarta dan tokoh pluralis.
Rian mengingatkan Anies yang dahulu pernah menggagas “Tenun Kebangsaan”. Menurut Anies saat itu, Republik ini dirancang untuk melindungi setiap warga negara. Ia mengilustrasikan Republik ini sebagai sebuah tenun kebangsaan yang dirajut dari kebhinnekaan suku, adat, agama, keyakinan, bahasa, geografis yang sangat unik. Kekerasan atas nama apapun akan merusak tenun tersebut. "Sekarang, Anies sendiri yang malah merobek tenun tersebut," kata Rian.
Apalagi, mantan Presiden Habibie pernah mengeluarkan instruksi agar penggunaan istilah 'pribumi' dan 'non-pribumi' dihentikan. Melalui Instruksi Presiden RI No 26 Tahun 1998, Habibie memerintahkan untuk “Menghentikan penggunaan istilah Pribumi dan Non-pribumi dalam semua perumusan dan penyelenggaraan kebijakan, perencanaan program, ataupun pelaksanaan kegiatan penyelenggaraan pemerintahan.”
PSI Jakarta menyampaikan kecamannya atas pernyataan soal pribumi Anies melalui tiga pernyataan sikap:
Poin Pertama. PSI Jakarta tidak sepakat dengan Anies Baswedan yang menggunakan istilah pribumi. Sebuah istilah usang zaman kolonial, yang sering didaur ulang untuk politik praktis dan membangkitkan tensi antargolongan di Indonesia. Yang lebih memprihatinkan adalah istilah usang ini keluar dari mulut Anies Baswedan sendiri, Gubernur DKI Jakarta dan tokoh pluralis.
Anies juga tidak seharusnya mendiskreditkan kata "pribumi", karena jika ditelaah dari sejarah — nenek moyang bangsa Indonesia sendiri berasal dari berbagai wilayah di luar Nusantara. Pemetaan DNA dari Lembaga Eijkman menunjukkan tak ada etnis sepenuhnya murni asli penghuni nusantara sejak ribuan tahun lalu. Kata "pribumi" yang ada di Indonesia lebih bersifat politik dibanding genetik.
Kakek Anies sendiri, AR Baswedan adalah keturunan Arab yang sempat berjuang melawan Belanda melalui medium tulisan di koran bernama Tionghoa, “Sin Tit Po”. AR Baswedan juga adalah pendiri Partai Arab Indonesia, yang didirikan pada 1934, atau enam tahun sesudah Sumpah Pemuda. Pada masa kolonial Belanda. Kakek Anies yang keturunan Arab juga termasuk di dalam golongan Timur Asing. Bukan golongan pribumi, jika maksudnya adalah orang Indonesia asli.