BUMN Harus Lebih Gesit dari Swasta
- ANTARA FOTO/Galih Pradipta
Menurut Akhmad terdapat fase-fase yang harus dilaksanakan oleh BUMN dimana perusahaan sudah bisa beroperasi seperti biasa. Seperti mengimbau kepada perusahaan BUMN harus memiliki task force penanganan COVID-19 sebagai antisipasi skenario normal baru.
“Rapat-rapat perusahaan, misalnya, tidak bisa lagi di luar seperti hotel, restoran, atau kafe, untuk menghindari kerumunan, tapi di kantor sendiri dengan menerapkan jaga jarak, dicek suhu, pakai masker, dan jumlah peserta yang dibatasi misalnya 5 orang.” Terangnya.
Pengajar Ilmu Komunikasi di Tanri Abeng University itu berpendapat, BUMN adalah soko guru perekonomian Nasional. Peranya sangat strategis karena menyumbang deviden untuk pendapatan negara. Menurutnya, BUMN adalah pundi-pundi pendapatan negara, kalau sampai terpapar dan terpuruk, risikonya besar sekali. Karena itu, ia sangat yakin pemerintah akan membantu BUMN yang berisiko merugi akibat pandemi.
"BUMN harus bergerak dan beroperasi lebih gesit dari swasta karena dia punya tugas untuk pelayanan publik dan menjadi perintis kegiatan-kegiatan usaha yang belum dapat dilaksanakan oleh sektor swasta dan koperasi. Sebagai perintis, BUMN harus berada di garda depan, dia harus menjadi contoh bagaimana sebuah perusahaan bertransformasi dan bertransisi ke era new normal,” Terang Akhmad.
Diketahui, Menteri BUMN Erick Thohir telah mengeluarkan surat edaran kepada seluruh Direktur Utama BUMN perihal antisipasi skenario The New Normal pada 15 Mei 2020 lalu.
Sejumlah perusahaan BUMN turut menyusun protokol kesehatan dalam mengantisipasi sejak dini manakala skenario normal baru diterapkan.
Seperti, PT Kereta Api Indonesia, PT Angkasa Pura II Bandara Soekarno-Hatta, Bank Mandiri, PT Pertamina, PT Telkom, Bank BNI, hingga PT PLN, menyiapkan protokol new normal di tengah pandemi Covid-19 dan lainnya.
Sesuai dengan arahan, perusahaan-perusahaan BUMN tersebut segera menyiapkan protokol layanan kepada pelanggan hingga mengatur para pegawainya.