Jalan Terjal Garuda Indonesia Keluar dari Labirin Utang
- Dok. Garuda Indonesia
Namun, Peter menyebut, Garuda membayar hampir dua kali lipat yakni sekitar US$1,4 juta per bulan atau setara dengan Rp19,9 miliar (kurs referensi BI Rp14.268 per dolar AS).
"Uangnya kemana sih waktu diteken? pengen tau aja," tulis Peter di akun Instagram akhir bulan lalu.
Terbaru, Peter juga membongkar informasi tentang penandatanganan kontrak beli pesawat Boeing 737 Max pada tahun 2013/2014. Peter awalnya tidak mau menandatangani kontrak itu karena hanya diberi waktu 1x24 jam untuk evaluasi dan terpaksa menandatanganinya.
"Total kontraknya melebihi US$3 miliar untuk 50 pesawat. Gila kan hanya 24 jam. Karena dipaksa dengan alasan saya harus tanda tangan, kalau tidak menjadi (dissenting) gagal pembeliannya. Saya akhirnya tandatangani juga tapi dengan catatan: bahwa kita tidak diberi waktu untuk evaluasi. Dan saya pun dikucilkan oleh 'direksi waktu itu'," ungkap Peter.Â
Setelah kontrak itu diteken, Peter pun mengaku bersyukur karena setelah itu, hanya satu pesawat yang terkirim ke Garuda. Karena, pesawat produksi Boeing tersebut mengalami gagal desain. Pesawat Boeing seri tersebut mengalami insiden kecelakaan yang sempat dialami maskapai Lion Air dan Ethiopia Air.Â
"Tahun lalu (2020) saya minta (lagi) direksi untuk batalkan kontrak tersebut dan kembalikan 1 pesawat yang sudah dikirim. Tapi tidak dikerjakan, karena alasan kontrak tersebut tidak bisa dibatalkan apapun alasannya. Saya minta dituntut di pengadilan Amerika Serikat, dan minta uang perusahaan dikembalikan, tapi tidak dilaksanakan, padahal Boeing sudah terkendala korupsi," ucapnya.
Menurut Peter, cerita ini mungkin tidak sampai diinformasikan kepada Menteri BUMN saat ini, Erick Thohir. "Ini harus saya kasih tau, karena kalau tidak pak erick yang disalahkan," ucap Peter.Â
Dugaan Pencatatan Akuntansi yang Disembunyikan
Pengamat Penerbangan dari Arista Indonesia Aviation Center (AIAC), Arista Atmadjati mengamati asal muasal dan penyebab utang Garuda Indonesia bisa membengkak sampai lebih dari Rp100 triliun tersebut. Dia mengaku sudah mengamati perkembangan utang tersebut sejak sepuluh tahun yang lalu.
"Dulu di era sekitar 10 tahun yang lalu, biaya-biaya leasing yang selisih dengan harga pasar, itu menurut ketentuan accounting itu tidak dihitung. Sekitar 10 tahun yang lalu, itu bisa tidak dimunculkan dalam laporan keuangan Garuda Indonesia," kata Arista saat dihubungi VIVA, Senin 8 November 2021.