Ekonom Usul ke Prabowo 3 Strategi Jitu Negosiasi Kebijakan Tarif Trump, Apa Saja?

Ilustrasi Pertumbuhan Ekonomi
Sumber :
  • VIVA/M Ali Wafa

Jakarta, VIVA – Ekonom Universitas Paramadina Wijayanto Samirin menyoroti adanya empat tantangan besar yang menjadi pekerjaan rumah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Dalam acara Sarasehan Ekonomi Bersama Presiden Indonesia pada Selasa, 8 April 2025, ia menyampaikan usulan konkret untuk menghadapi perang dagang yang sudah di depan mata.

img_title 'Economic D-Day' untuk Iran Dimulai

Wijayanto menuturkan, keempat masalah besar yang dimaksud adalah tantangan fiskal, nilai tukar rupiah yang terus melemah, de-industrialisasi, dan penciptaan lapangan kerja. Selain itu, Indonesia juga harus menghadapi perang dagang (trade war) sebagai buntut dari penerapan tarif impor oleh Donald Trump. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Ia setuju dengan Sri Mulyani dan Airlangga Hartarto bahwa perang dagang merupakan tantangan tambahan bagi perekonomian domestik. Namun, situasi ini juga  membawa kesempatan luar biasa bagi Indonesia untuk berbenah. 

img_title Iran Ancam Tutup Selat Hormuz Jika AS Lanjutkan Perang Ekonomi

"Dalam konteks melihat sisi positif dari kondisi ini, izinkan saya mewakili beberapa ekonom untuk menyampaikan tiga usulan konkret Pak Presiden," ujar Wijayanto dikutip pada Selasa, 8 April 2025.

img_title Vladimir Putin dan Donald Trump Berpotensi Ketemu di KTT APEC China, Momen Besar untuk Indonesia

Pertama, perlunya penyegaran dengan melakukan  deregulasi secara masif dan menyeluruh. Dalam konteks ini, Wijayanto mengusulkan pendekatan yang disebut neck to neck approach, eye to eye, point to point approach.

"Saya sepakat dengan Bapak, nyontek itu halal di sini, Pak. Vietnam punya apa? Kita harus punya yang sama, minimal mendekati. Syukur-syukur lebih baik dari Vietnam, sehingga kontrolnya mudah, Bapak Presiden," imbuh Wijayanto.

Misalnya saja melihat ekosistem perdagangan dan pasar Vietnam yang sangat menarik bagi pelaku ekonomi maupun investor. Di sana tidak ada premanisme di kawasan industri, tidak ada 'polisi' di pasar modal, izin usaha yang cepat, harga tanah yang relatif murah, proses Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) yang fleksibel. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Ada begitu banyak poin yang menurut saya kita harus copy. Tidak perlu benchmark dengan banyak negara.
Kita harus wujudkan itu," tegas Wijayanto.

Kedua, Wijayanto menyoroti adanya low hanging fruit yang masih belum disasar dengan serius, khususnya sektor manufaktur. Ia memaparkan output dan utilisasi sektor manufaktur sebelum pandemi Covid-19 sekitar 75 persen kemudian pasca-pandemi turun ke 50 persen dan saat ini berada di kisaran 60 persen. 

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut