Beda Nasib dengan Rupiah, Ringgit Malaysia Kini Jadi Primadona Baru
- The Star
Jakarta, VIVA – Kepercayaan investor global terhadap mata uang negara berkembang kembali menguat, dan ringgit Malaysia menjadi salah satu 'primadonanya'. Di tengah volatilitas global dan pergeseran arus modal internasional, ringgit justru menunjukkan performa yang semakin solid, baik dari sisi nilai tukar maupun aktivitas perdagangannya.
Lonjakan minat ini tidak datang tanpa alasan. Kombinasi stabilitas ekonomi, kebijakan fiskal yang relatif terjaga, serta masuknya investasi asing skala besar membuat Malaysia semakin menonjol di mata pelaku pasar global.
Melansir dari The Star, perdagangan ringgit Malaysia tengah berada di fase paling aktif dalam enam tahun terakhir. Berdasarkan data dari Bank Negara Malaysia, rata-rata volume transaksi harian ringgit mencapai RM19,8 miliar sepanjang 2025. Angka ini menjadi yang tertinggi sejak enam tahun terakhir.
Lonjakan tersebut didorong oleh masuknya dana global, performa pasar keuangan domestik yang mengungguli kawasan, serta meningkatnya aktivitas lindung nilai dan penyaluran kredit perbankan. Pada 2026 ini, volume harian masih bertahan tinggi di kisaran RM18,5 miliar, menandakan minat investor belum surut.
Daya tarik ringgit juga ditopang oleh kinerja pasar saham Malaysia. Indeks saham utama negara tersebut diperdagangkan mendekati level tertinggi dalam tujuh tahun, mencerminkan keyakinan investor terhadap ketahanan ekonomi domestik.
Hal ini terjadi meskipun Amerika Serikat memberlakukan tarif impor sebesar 19 persen terhadap Malaysia sejak tahun lalu. Alih-alih tertekan, ekonomi Malaysia justru dinilai cukup resilien menghadapi kebijakan tersebut.
Minat investor institusi global terhadap ringgit tetap kuat. Manajer investasi Aberdeen Group tercatat mengambil posisi overweight pada mata uang Malaysia tersebut. Aberdeen memproyeksikan ringgit akan menguat hingga level 3,95 per dolar AS dalam enam bulan ke depan, dari posisi penutupan terakhir di 4,05.
“Investor internasional menunjukkan minat yang lebih besar terhadap pasar Malaysia, dan partisipasi yang meningkat ini menjaga volume tetap tinggi bahkan di luar periode gejolak pasar,” ujar Fesa Wibawa, analis investasi Aberdeen yang berbasis di Singapura, sebagaimana dikutip pada Kamis, 22 Januari 2026.
Ia menambahkan bahwa volatilitas global turut mendorong peningkatan transaksi mata uang melalui aktivitas lindung nilai dan posisi jangka pendek. Meningkatnya perputaran ringgit dinilai akan memperkuat daya tarik aset-aset Malaysia.