Beda Nasib dengan Rupiah, Ringgit Malaysia Kini Jadi Primadona Baru

Ringgit Malaysia
Sumber :
  • The Star

Jakarta, VIVA – Kepercayaan investor global terhadap mata uang negara berkembang kembali menguat, dan ringgit Malaysia menjadi salah satu 'primadonanya'. Di tengah volatilitas global dan pergeseran arus modal internasional, ringgit justru menunjukkan performa yang semakin solid, baik dari sisi nilai tukar maupun aktivitas perdagangannya.

img_title Malaysia Bakal Kirim 3 Helikopter dan 52 Personel Bantu Indonesia Padamkan Karhutla

Lonjakan minat ini tidak datang tanpa alasan. Kombinasi stabilitas ekonomi, kebijakan fiskal yang relatif terjaga, serta masuknya investasi asing skala besar membuat Malaysia semakin menonjol di mata pelaku pasar global.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Melansir dari The Star, perdagangan ringgit Malaysia tengah berada di fase paling aktif dalam enam tahun terakhir. Berdasarkan data dari Bank Negara Malaysia, rata-rata volume transaksi harian ringgit mencapai RM19,8 miliar sepanjang 2025. Angka ini menjadi yang tertinggi sejak enam tahun terakhir.

img_title Rupiah Menguat ke Rp 17.731 di Tengah Optimisme Pertumbuhan Ekonomi dan Pengelolaan APBN oleh Suahasil

Lonjakan tersebut didorong oleh masuknya dana global, performa pasar keuangan domestik yang mengungguli kawasan, serta meningkatnya aktivitas lindung nilai dan penyaluran kredit perbankan. Pada 2026 ini, volume harian masih bertahan tinggi di kisaran RM18,5 miliar, menandakan minat investor belum surut.

Daya tarik ringgit juga ditopang oleh kinerja pasar saham Malaysia. Indeks saham utama negara tersebut diperdagangkan mendekati level tertinggi dalam tujuh tahun, mencerminkan keyakinan investor terhadap ketahanan ekonomi domestik.

img_title Rupiah Melemah ke Rp 17.764 Seiring Tantangan Suahasil Tumbuhkan Ekonomi & Jaga Kredibilitas APBN

Hal ini terjadi meskipun Amerika Serikat memberlakukan tarif impor sebesar 19 persen terhadap Malaysia sejak tahun lalu. Alih-alih tertekan, ekonomi Malaysia justru dinilai cukup resilien menghadapi kebijakan tersebut.

Minat investor institusi global terhadap ringgit tetap kuat. Manajer investasi Aberdeen Group tercatat mengambil posisi overweight pada mata uang Malaysia tersebut. Aberdeen memproyeksikan ringgit akan menguat hingga level 3,95 per dolar AS dalam enam bulan ke depan, dari posisi penutupan terakhir di 4,05.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

“Investor internasional menunjukkan minat yang lebih besar terhadap pasar Malaysia, dan partisipasi yang meningkat ini menjaga volume tetap tinggi bahkan di luar periode gejolak pasar,” ujar Fesa Wibawa, analis investasi Aberdeen yang berbasis di Singapura, sebagaimana dikutip pada Kamis, 22 Januari 2026.

Ia menambahkan bahwa volatilitas global turut mendorong peningkatan transaksi mata uang melalui aktivitas lindung nilai dan posisi jangka pendek. Meningkatnya perputaran ringgit dinilai akan memperkuat daya tarik aset-aset Malaysia. 

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut