Bos BI Blak-blakan Biang Kerok Pelemahan Rupiah terhadap Dolar AS

Konferensi Pers Hasil Rapat Berkala KSSK II Tahun 2026
Sumber :
  • [Mohammad Yudha Prasetya]

Jakarta, VIVA – Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, secara blak-blakan menjelaskan bahwa pelemahan Rupiah terjadi bukan karena fundamental ekonomi Indonesia melemah, namun karena sejumlah pengaruh dari faktor global.

img_title Rupiah Gagal Menguat Meski Neraca Dagang Surplus, Ini Penyebabnya

Dia memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 yang mencapai 5,61 persen, merupakan bukti bahwa fundamental ekonomi nasional masih terjaga.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Terlebih, capaian pertumbuhan ekonomi nasional di kuartal I-2026 itu, menjadi salah satu pertumbuhan ekonomi yang tertinggi di antara negara-negara anggota G20 lainnya.

img_title Awal November Rupiah Belum Menguat, Analis Ungkap Kisaran Pergerakan Dolar AS

"Jadi kalau dilihat dari indikatornya, secara fundamental ekonomi kita itu kuat. Nah pertanyaannya, kok ada pelemahan rupiah? Ya, itu karena faktor global," kata Perry dalam Konferensi Pers Hasil Rapat Berkala KSSK II Tahun 2026 di kompleks Perkantoran Bank Indonesia, Jakarta, Kamis, 7 Mei 2026.

Gubernur BI, Perry Warjiyo, Konferensi Pers Hasil Rapat Berkala KSSK IV-2025

Photo :
  • [tangkapan layar]

img_title Rupiah Dibayangi Ancaman Rp21.000 per Dolar AS, Ini 4 Hal yang Harus Segera Dibenahi

Kinerja positif perekonomian nasional kuartal I-2026 itu menurut Perry juga dapat dilihat dari terjaganya laju inflasi di angka 2,42 persen, kredit perbankan yang tumbuh tinggi, serta neraca perdagangan yang kembali mencatatkan surplus.

Namun, nyatanya faktor-faktor global yang terjadi diakui Perry telah membuat sejumlah indikator positif itu tak mampu memperkuat posisi rupiah. Sebab, tensi geopolitik di Timur Tengah telah membuat harga minyak dunia melonjak.

Kondisi itu juga diperparah dengan melonjaknya suku bunga AS hingga mencapai 4,41 persen, seiring dengan tren capital outflow dimana para investor asing ramai-ramai beralih dari negara-negara emerging market.

"Jadi itulah faktor-faktor utama dari sisi global yang menyebabkan pelemahan rupiah," ujarnya.

Tak hanya itu, lanjut Perry, masih ada pula faktor musiman yang membuat permintaan valuta asing (valas) melonjak, seperti misalnya musim umrah dan haji yang terjadi di bulan April dan Mei 2026 ini.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Secara musiman, di April sama Mei itu permintaan valasnya tinggi. Untuk apa? Untuk kita doakan seluruh masyarakat kita yang beribadah umrah dan haji, InsyaAllah nanti sehat, dan kita pastikan kebutuhan dolarnya terpenuhi," kata Perry.

"Lalu juga di bulan April dan Mei itu memang korporasi banyak yang repatriasi dividen, membayar utang luar negeri baik bunga maupun pokok (utang). Jadi memang kondisinya seperti itu," ujarnya.

Ilustrasi Inflasi

BI Sebut Inflasi pada Oktober 2026 Terjaga Baik, Ini Faktor Penyebabnya

BI menilai inflasi pada Oktober 2026 tetap terjaga dalam kisaran sasaran, karena merupakan hasil penguatan sinergi antara bank sentral bersama pemerintah.

img_title
VIVA.co.id
2 November 2026
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut