IHSG Tertahan di Level 5.000, Ini Deretan Data yang Ditunggu Investor
- Antara
Jakarta, VIVA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak terbatas pada perdagangan Senin (2/11/2026). Pelaku pasar cenderung bersikap wait and see sambil menantikan sejumlah rilis data ekonomi domestik yang dapat memengaruhi arah pergerakan pasar saham.
IHSG dibuka melemah sebelum berbalik menguat. Pada pukul 10.12 WIB, indeks naik 4,08 poin atau 0,08 persen ke level 5.061,13. Sementara itu, indeks LQ45 yang mengukur pergerakan 45 saham unggulan menguat 0,78 poin atau 0,15 persen ke posisi 515,95.
Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim memperkirakan IHSG masih berpeluang bergerak terbatas dalam rentang tertentu, dengan level psikologis 5.000 menjadi perhatian pelaku pasar.
"Secara teknikal diperkirakan IHSG menguji level 4.900-5.000. Jika IHSG bertahan di atas level 5.000, maka berpotensi akan bergerak sideways di kisaran 5.000-5.200. Peluang untuk menutup gap di 5.800 masih terbuka jika IHSG mampu bertahan di atas 5.450. ," ujar Ratna dalam kajiannya di Jakarta, Senin.
Dari dalam negeri, investor mencermati sejumlah agenda ekonomi, mulai dari rilis data Manufacturing Purchasing Managers (PMI) Index, neraca perdagangan, inflasi, hingga pertumbuhan ekonomi kuartal III-2026. Data cadangan devisa dan indeks harga rumah juga menjadi perhatian pasar.
Selain itu, pelaku pasar mengantisipasi dampak pengeluaran saham-saham High Shareholding Concentration (HSC) dari perhitungan IHSG mulai perdagangan Senin (2/11). Kebijakan tersebut berpotensi meningkatkan bobot saham-saham lain yang masih masuk dalam perhitungan indeks, terutama emiten dengan kapitalisasi pasar besar.
Dari eksternal, perhatian investor tertuju pada pemilu midterm Amerika Serikat (AS) yang berlangsung pekan ini. Hasil jajak pendapat mengindikasikan Partai Republik berisiko kehilangan mayoritas di DPR AS serta kendali atas Senat. Kondisi tersebut berpotensi menghambat pelaksanaan agenda Presiden Donald Trump.
Konflik geopolitik dan berlanjutnya musim publikasi laporan keuangan (earning season) kuartal III-2026 juga menjadi faktor yang dicermati investor. Di AS, laporan keuangan serta proyeksi kinerja sejumlah perusahaan teknologi yang berada di bawah estimasi meningkatkan kekhawatiran terhadap perlambatan pertumbuhan bisnis terkait kecerdasan buatan (AI).
Pergerakan bursa global turut memberikan sentimen terhadap pasar saham domestik. Pada penutupan Jumat (30/10) pekan lalu, bursa Eropa bergerak variatif. FTSE 100 Inggris menguat 0,07 persen, sedangkan DAX Jerman melemah 0,85 persen, CAC 40 Prancis turun 0,01 persen, dan Euro Stoxx 50 terkoreksi 1,22 persen.