- ANTARA FOTO/Wahyu Putro A
“Kami menangani penyebaran informasi yang salah dengan serius. Ini adalah masalah yang kompleks, baik secara teknis maupun filosofis," ujar Facebook Indonesia.
Selain itu, menurut Facebook, meyakini pentingnya menyuarakan pendapat. Meskipun perlu berhati-hati agar tidak membuat orang enggan untuk berbagi pendapat atau melakukan kesalahan dengan membatasi konten yang akurat.
Sementara itu, Google mengaku sedang mengupayakan perbaikan algoritma yang lebih canggih untuk bisa mengidentifikasi halaman atau situs hoax yang muncul dalam mesin pencarian mereka. Namun, mereka tetap berkomitmen menjunjung tinggi prinsip internet yang bebas dan terbuka.
“Saat sebuah informasi yang meragukan ditampilkan cukup tinggi di hasil penelusuran, kami tidak menghapusnya satu per satu, melainkan menerapkan sebuah perbaikan yang dapat secara otomatis diaplikasikan ke semua hasil penelusuran," tutur Google Indonesia kepada VIVA.co.id.
Selain itu, Google baru saja meningkatkan algoritma untuk dapat menampilkan konten yang lebih kredibel dan berkualitas tinggi pada hasil penelusuran pengguna. "Kami berkomitmen untuk terus meninjau algoritma tersebut guna menjawab tantangan semacam ini,” tutur Google.
Sayangnya, tidak seperti Google dan Facebook yang langsung bergerak memperbaiki algoritma, Twitter lebih suka bermain aman dengan menggunakan fitur yang sudah ada. Pengguna dapat melakukan BRIM (Block, Report, Ignore, Mute) terhadap konten atau akun yang membuat mereka tidak nyaman.
Hal ini dikarenakan Twitter keukeuh sebagai perusahaan penyedia platform, bukan lembaga sensor.
“Kami tidak berhak menyaring informasi yang beredar di platform kami. Sebagai platform global, kami memiliki peraturan jelas untuk membantu pengguna melindungi dirinya dari berita-berita yang tidak mereka inginkan yang beredar di dunia maya, termasuk Twitter," ujar Agung Yudhawiranata, public policy lead Twitter Indonesia kepada VIVA.co.id.
Twitter memiliki peraturan, persyaratan layanan (terms of service), dan prosedur pelaporan yang sudah jelas. Twitter berharap pengguna Indonesia tidak sungkan untuk melaporkan konten-konten yang membuat mereka tidak nyaman.
Dari laporan tersebut, tim Twitter akan menindaklanjuti sesuai dengan jenis laporannya
Tanpa Edukasi, Nol Besar
Sementara itu, Septiaji Eko Nugroho, ketua Masyarakat Antifitnah dan Hoax Indonesia, menganggap jika semua pihak harus terlibat untuk bisa melawan peredaran hoax. Yang paling ampuh, adalah penegakan hukum kepada pelaku penyebaran hoax.