Penjelasan Ilmiah BPPT Soal Hujan Es di Jakarta

Libur Imlek, Kota Tua Tetap Ramai Wisatawan Meski Diguyur Hujan
Sumber :
  • VIVA.co.id/Ahmad Rizaluddin

VIVA.co.id – Beberapa hari yang lalu, masyarakat Jakarta dihebohkan dengan hujan es. Tak sedikit yang mengaitkan dengan hal-hal mistik, termasuk dikaitkan dengan Pilkada DKI Jakarta putaran kedua.

img_title Hujan Es Sebesar Bola Bisbol Terjang Brasil, 246 Orang Luka-luka

Namun, ini dibantah oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Kepala Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca (BBTMC-BPPT), Tri Handoko Seto mengatakan, hujan es yang terjadi di beberapa wilayah di Jakarta Selasa kemarin, tidak ada hubungannya dengan sesuatu yang aneh melainkan hanya fenomena alam.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Dia menerangkan, meski hanya fenomena alam, hujan es tersebut belum termasuk dalam kategori ekstrim atau membahayakan karena ukuran diameter butir es-nya masih pada kisaran 1-2 sentimeter.

img_title Heboh Lampung Diguyur Hujan Es, BMKG Ungkap Penyebabnya

"Namun waspada iya, tetap perlu tetapi jangan takut berlebihan. Ini berbeda dengan hujan es di daerah lintang tengah atau lintang tinggi dimana diameter butiran es bisa di atas 10 sentimeter, yang berpotensi merusak tanaman," ujar Seto dalam keterangan tertulis yang diterima VIVA.co.id, Kamis 30 Maret 2017.

Seto menjelaskan, secara prinsip, penyebab hujan es ini dikarenakan awan yang tinggi puncaknya melebihi titik beku (freezing level). Awan tersebut memiliki bagian atas yang suhunya lebih rendah dari nol derajat celsius sehingga memiliki peluang sangat besar memproduksi es.

img_title Hujan Es dan Angin Kencang Terjang Tasikmalaya, Sejumlah Bangunan Rusak

"Jika dalam awan tersebut terdapat inti es maka kemudian terbentuk dari udara superdingin yang mengalami pengintian atau nukleasi es," kata Seto.

Semakin tinggi puncak awan dan semakin banyak inti es maka yang terbentuk pun makin banyak. Meski pada perkembangan teknologi terbaru memperlihatkan bahwa inti es yang kelewat banyak justru menghambat proses pengintian.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Pada masa peralihan, biasanya terjadi pembentukan awan secara konvektif. Kala itu massa udara basah terangkat ke atas dan terbentuk awan sampai puncaknya melebihi freezing level dan terjadilah proses pengintian es. Sehingga bagian atas awan tersebut banyak mengandung es. 

Ketika sudah cukup waktunya untuk terjadi hujan maka butiran atau bahkan gumpalan es juga akan jatuh ke permukaan bumi. "Jika kondisi udara di bawah awan cukup lembap dan dingin maka butiran atau gumpalan es tersebut akan tetap menjadi es sampai permukaan bumi. Tetapi jika kondisi udara di bawah awan tidak cukup lembap dan dingin maka butiran atau gumpalan es akan mencair sehingga terjadi hujan air saja," kata dia.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut