Inovasi Siswa SMA Ubah Tanah Liat Jadi Listrik

Inovasi tanah liat menjadi energi listrik
Sumber :
  • VIVA.co.id/Dwi Royanto

VIVA.co.id – Apa yang dilakukan Bagas Pramana Putra, siswa SMA Taruna Nusantara di Magelang, Jawa Tengah ini sungguh menginspirasi. Berkat keuletannya, ia mampu membuat terobosan teknologi, mengubah tanah liat menjadi listrik.

Selamat, Alat Cek Gula Darah Murah Siswi Indonesia jadi Juara Dunia

Eksperimen siswa kelas 12 SMA asal Sleman, Yogyakarta itu diberi nama 'Genteng Triko'. Ide inovasi teknologi yang dikembangkannya mirip-mirip seperti Elon Musk yang mengubah energi cahaya menjadi listrik. Bedanya, siswa usia 16 tahun itu mengubah tanah liat yang mudah ditemukan di berbagai daerah menjadi listrik. 

Ide Bagas ini sederhana, tetapi fungsinya luar biasa. Tanah liat bisa dimanfaatkan, agar berguna dan menghasilkan sel solar untuk sumber listrik. Bahan tanah liat dicampur dengan tembaga, air laut dan magnesium.

Mahasiswa IPB Ciptakan Susu dari Petai Cina

"Energi dalam bentuk panas di Bumi Indonesia sangat melimpah dan perlu diubah menjadi listrik. Apalagi kebutuhan listrik di tanah air semakin besar, " kata Bagas kepada VIVA co.id, Senin 8 Mei 2017.

Melalui rangkaian bahan-bahan itu, secara bertahap mampu menghasilkan energi listrik. Menurut Bagas, alat temuannya ini sangat murah dan mudah, karena bahan tanah liat tersedia banyak di Indonesia.

Dari Indonesia untuk Dunia, Siswi RI Bikin Alat Cek Gula Darah Murah

"Saya sendiri punya cita-cita membuat sebuah pemukiman percontohan yang memanfaatkan temuan ini sebagai sumber listrik, " katanya.

Meski begitu, Bagas mendapatkan kendala untuk mengembangkan lebih jauh eksperimennya, yakni minimnya ketersediaan bahan lain, yakni magnesium. 

"Jika alat ini nanti dipakai masyarakat luas, warga harus menjaga hutan. ketersediaan tanah liat juga dipengaruhi oleh eksistensi hutan," ujarnya.

Guru pembimbing Bagas, Amin Sukarjo mengatakan, temuan Bagas kini menjadi finalis kompetisi tingkat nasional yang diselenggarakan sebuah perusahaan BUMN. Pada Oktober 2017, Bagas juga akan ikut sebuah kompetisi internasional di Nepal. 

"Sejak beberapa tahun lalu, Bagas juga telah menjuarai sejumlah kompetisi teknologi dari tingkat Kabupaten, Provinsi hingga Nasional, " ujarnya.

Sukarjo berharap, penelitian Bagas bisa berlanjut dan dapat dihilirisasi lebih lanjut oleh pemerintah, mengingat eksperimen ini belum tuntas. Alat ini digadang-gadang memiliki fungsi maksimal menyimpan listrik yang dihasilkan oleh tanah liat.

"Kita ingin alat ramah lingkungan ini bisa dibuat di daerah terpencil di Indonesia. PLN sebagai perusahaan negara bisa mengembangkan. Tujuannya untuk memasok listrik dengan memanfaatkan potensi alam Indonesia, " kata guru Fisika SMA Taruna Nusantara itu. (asp)

Tim Indonesia International Conference of Young Social Scientists (ICYSS 2019)

Selamat! Siswa Indonesia Juara dan Borong Medali Internasional

Siswa Indonesia berjaya dalam ICYSS 2019 di Serbia.

img_title
VIVA.co.id
26 Agustus 2019