Platform Digital Ini Ngaku 'Ketiban Rezeki' karena YouTube dan TikTok

Pendiri MCA, Jason Lim (tengah) dan Claira Chua (kanan).
Pendiri MCA, Jason Lim (tengah) dan Claira Chua (kanan).
Sumber :
  • MCA

"Ini menunjukkan pertumbuhan yang stabil, baik sisi penonton maupun pengikut atau followers. Boleh dikatakan kalau kami sebagai platform digital berbasis kesehatan terbesar dan yang paling berkembang di Asia," klaim Jason.

Sementara Co-Founder Medical Channel Asia, Claira Chua, mengaku meskipun kontennya bisa dikonsumsi oleh seluruh masyarakat di seluruh dunia, namun informasi-informasi yang tersedia di MCA lebih menyasar kepada isu-isu kesehatan yang fokus kepada orang-orang Asia.

"Seluruh konten kami kini tersedia secara online dan bisa diakses. Solusi media kami juga bisa menjadi jembatan antara tenaga ahli kesehatan dan dunia farmasi sekaligus perusahaan alat kesehatan," tegas Chua.

TikTok dan YouTube.

TikTok dan YouTube.

Photo :
  • Theguardian

Pada kesempatan yang sama, spesialis penyakit dalam dan kardiologist Dr Christopher Suwita dari Rumah Sakit Ukrida memaparkan jika penanganan pasien orang-orang Barat sangat kontras dengan pasien orang Asia.

"Pada umumnya, analisa inti masalah pada suatu penyakit tidaklah sangat berbeda berdasarkan konten," jelasnya. Tetapi, karena adanya perbedaan demografi dan nilai-nilai sosial budaya Barat dan Timur maka rekomendasi pun juga ikut berbeda, seperti terhadap pola diet, kegiatan fisikal, penanganan penyakit menular hingga dosis obat.

Adapun, Dr Sean Leo, ahli operasi Orthopaedic dari Orthokinetics di Singapura, mengatakan bahwa kerja sama dengan platform digital seperti MCA membuat para dokter dengan keahliannya masing-masing bisa membagikan informasi terkini mengenai kesehatan serta perkembangannya dengan orang-orang di dunia.