Kecerdasan Buatan bikin Geregetan

Ilustrasi kegiatan manusia diawasi kecerdasan buatan (AI).
Sumber :
  • IT PRO

VIVA Tekno – Kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) kini telah hadir dalam kehidupan sehari-hari, setelah dalam waktu yang lama hanya dianggap sebagai bahan fiksi ilmiah dan penelitian dasar.

Google Fires 28 Employees Because of Nimbus Project

Saat ini, jutaan orang menggunakan aplikasi seperti program bahasa AI ChatGPT atau Bard setiap harinya. Menurut para ahli, ini hanyalah permulaan.

"AI saat ini sedang menikmati 'momen iPhone' mereka. Aplikasi seperti ChatGPT, yang mudah digunakan dan tidak memerlukan pengetahuan teknis sebelumnya, telah menghadirkan kecerdasan buatan kepada pengguna akhir. Dan itu akan berdampak kepada masyarakat secara keseluruhan," ungkap Léa Steinacker, peneliti sosial, seperti dikutip dari situs Deutsche Welle, Senin, 8 Januari 2024.

Indonesia Bakal Jadi Basis Produksi Mobil Listrik Canggih

ChatGPT.

Photo :
  • Getty Images
Google Pecat 28 Karyawan Setelah Protes Terhadap Kontrak dengan Pemerintah Israel

Pengenalan smartphone Apple di 2007, menurut dia, dianggap sebagai titik balik karena semakin banyak orang mulai menggunakan internet lewat ponsel pintar/HP. Seperti apa perdebatan tentang kecerdasan buatan yang bisa kita lihat pada 2024?

Apa yang disebut AI generatif memungkinkan pembuatan teks dan gambar yang meyakinkan dalam hitungan detik.

Hal ini juga termasuk pembuatan deepfake (pemalsuan mendalam) yang membuat seseorang seolah mengatakan atau melakukan hal-hal yang tidak pernah mereka katakan atau lakukan.

Para ahli khawatir akan terjadi kampanye disinformasi dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya pada tahun pemilu 2024. Seperti diketahui, tahun ini akan ada pemilihan presiden baru AS, pemilu Parlemen Eropa, dan beberapa pemilu lain di Asia, termasuk di Indonesia.

Ada kekhawatiran bahwa deepfake akan digunakan untuk memengaruhi opini publik menjelang pemilu atau untuk memicu kerusuhan.

"Kunci untuk mempercayai proses pemilu UE (Uni Eropa) adalah apakah kita dapat mengandalkan infrastruktur keamanan siber dan integritas informasi," kata Juhan Lepassaar, Direktur Badan Keamanan Siber UE (ENISA).

Seberapa besar pengaruh deepfake juga akan bergantung pada seberapa besar perusahaan media sosial berusaha menahan penyebarannya.

Platform seperti YouTube milik Google atau Facebook dan Instagram milik Meta telah memperkenalkan kebijakan pelabelan untuk konten yang dihasilkan AI.

Tahun ini, baik atau buruknya kinerja mereka akan sangat bisa dilihat. Untuk mengembangkan aplikasi AI generatif, perusahaan melatih model komputer dengan teks atau gambar dalam jumlah besar dari internet.

Google Bard.

Photo :
  • Google

Sejauh ini, hal ini terjadi tanpa adanya persetujuan tertulis dari penulis, ilustrator, atau fotografer yang karyanya dipakai begitu saja.

Banyak pemegang hak cipta melihat hal ini sebagai pelanggaran terhadap hak cipta mereka, dan mereka bertekad memperjuangkannya.

Pada akhir Desember 2023, New York Times mengumumkan akan menuntut OpenAI dan Microsoft. Surat kabar tersebut menuduh kedua perusahaan di balik ChatGPT ini telah menggunakan jutaan artikel mereka dengan tidak selayaknya.

OpenAI juga digugat oleh sekelompok penulis terkemuka Amerika Serikat (AS), termasuk John Grisham dan Jonathan Franzen.

Prosesnya masih berlanjut di pengadilan. Agen foto Getty Images juga menggugat perusahaan kecerdasan buatan, Stability AI, yang berada di balik sistem pembuatan gambar Stable Diffusion.

Keputusan pertama pengadilan terkait hal ini diperkirakan akan dikeluarkan tahun ini. Keputusan tersebut dapat memberikan informasi berharga tentang bagaimana undang-undang hak cipta yang ada saat ini harus disesuaikan dengan era AI.

Microsoft Bing.

Photo :
  • Getty Images

Dengan latar belakang seperti yang telah disebutkan di atas, para ahli sepakat bahwa: 'sama seperti mobil yang harus dilengkapi sabuk pengaman, teknologi AI juga perlu diatur'.

Setelah negosiasi selama bertahun-tahun, UE menyetujui undang-undang AI pada Desember 2023. Ini adalah paket legislatif komprehensif pertama di dunia yang khusus membahas kecerdasan buatan.

Di 2024, semua perhatian akan tertuju pada regulator Eropa untuk melihat apakah mereka menegakkan peraturan baru ini. Sudah ada diskusi yang lebih panas mengenai apakah dan bagaimana aturan-aturan ini bisa diterapkan secara retrospektif.

"Masalahnya ada pada rinciannya. Dan kita harus bersiap menghadapi perdebatan panjang baik di UE maupun AS mengenai implementasi praktis dari undang-undang baru ini," jelas Léa Steinacker.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya