Asal Usul Mawar, dari Perang sampai Obat Kuat
- ANTARA FOTO/Zabur Karuru
Data dari Flower Council of Holland, tulis Rahmat, persentase ekspor bunga potong dunia pada 1991 paling tinggi yakni Belanda (65 persen) diikuti Kolombia (11 persen), Italia (5 persen), Israel (4 persen), Kenya (1 persen) dan lainnya.Â
Budidaya mawar juga dirasakan Indonesia. Rahmat menuliskan, produksi bunga mawar potong banyak dihasilkan sentra bunga seperti Cipanas, Lembang Jawa Barat, Brastagi Sumatera Utara, Bandungan Jawa Tengah. Sedangkan bunga mawar tabur dihasilkan di Ambarawa, Boyolali Jawa Tengah, Bangil Jawa Timur serta Kebun Jeruk Jakarta, Tangerang dan Bogor, meski menurut Rahmat, jumlahnya kecil.Â
![]()
Mawar dan obat
Di masa perang, ternyata mawar punya kontribusi. Dalam buku Bunga Potong Mawar, Rahmat menuliskan, pada Perang Dunia II di Inggris, mawar difungsikan sebagai bahan makanan, minuman dan khasiat obat. Mawar kala itu dijadikan sumber vitamin C.Â
Versi lainnya, tulis Rahmat, catatan menunjukkan tabib China memanfaatkan minyak bunga mawar sebagai obat Yin yang berfungsi menenangkan saraf, memperlancar sirkulasi darah, membebaskan jantung dari kemacetan, memperkuat otot dinding perut serta menyehatkan pembuluh kapiler.Â
Rahmat melanjutkan, ada pula yang meyakini minyak mawar bisa menambah daya vitalitas, yakni meningkatkan jumlah sperma kaum Adam yang impoten, menormalkan siklus haid wanita dan membersihkan lambung atau usus kotor. Dalam riwayat, kata Rahmat, Suku Indian memanfaatkan ramuan rebusan pucuk mawar liar untuk diminum sebagai teh penyembuh penyakit kencing nanah.  Â
Dalam penelitian era modern, ternyata minyak mawar (rose oil) mengandung finel etil alkohol, citronellol dan nerol geraniol. Kandungan senyawa ini merupakan bahan parfum yang harum.