Edukasi Seksualitas Mencegah Pernikahan Dini
“Penting untuk diajarkan pada pendidikan seksualitas. Kemudian nanti saat SMA, bisa dilanjutkan bagaimana menjalin relasi yang sehat dengan orang lain, bukan relasi yang toksik. Itu juga pendidikan seksualitas yang perlu dibahas,” ujar dia.
Ia mengatakan sangat salah apabila masyarakat masih berpikiran bahwa pemberian edukasi seksual tidak boleh dilakukan. Karena melalui pelajaran tersebut, anak-anak dapat menghormati diri sendiri, kesehatan seksualnya serta mampu lebih menghormati lawan jenis.
“Dengan mereka mendapatkan pendidikan seksualitas yang sesuai dengan usianya, justru anak itu terlindung dari risiko-risiko masalah kejahatan seksual, risiko-risiko melakukan hal-hal yang tidak benar dari seksualitas dia, justru dia memiliki kehidupan seksulitas yang lebih sehat. Jadi salah sekali kalau tidak boleh melakukan pendidikan seksualitas, justru ini penting sekali,” ucap Anna.
Secara terpisah, Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Hasto Wardoyo menyoroti edukasi mengenai pernikahan pada anak perlu lebih digalakkan untuk dapat mencegah terjadinya kematian ibu dan bayi.
“Salah satu hal yang perlu kita lakukan adalah kita luruskan bahwa pemahaman terhadap kesehatan reproduksi itu penting,” kata Hasto dalam Rakor BKKBN dengan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) RI yang diikuti secara daring di Jakarta, Kamis (16/9).
Hasto mengatakan, hal tersebut penting untuk dilakukan lebih masif lagi untuk dapat merubah pandangan masyarakat pada sexual education (edukasi seksual) yang masih dianggap sebagai suatu hal yang tabu.
Ia menjelaskan apabila anak tersebut memilih untuk hamil pada usia yang lebih muda, tulang akan berhenti bertambah panjang dan mudah untuk terkena penyakit saat usia tua, karena perempuan akan mengalami menopause (berakhirnya masa mensturasi pada perempuan) dan osteoporosis (kondisi berkurangnya kepadatan tulang) serta rentan terkena kanker mulut rahim.
Hasto menegaskan apabila seorang anak telah memahami dan mengetahui pentingnya kesehatan pada sistem reproduksi tubuh, maka seorang anak akan memiliki pola fikir dan perilaku yang berbeda saat menanggapi hal terkait perkawinan. (ant)