Mencari Jati Diri di Balik Sindoro-Sumbing

Trilogi Giharu
Trilogi Giharu
Sumber :
  • Giharu

VIVAnews - Giharu mati-matian berusaha mempertahankan perkawinannya dengan Squal, orang yang tidak pernah dicintainya. Itu semua demi cinta yang lebih besar; Oracle, anaknya.

Dan Squal, suaminya justru memberikan tegangan setiap hari. Ia menebarkan api. Oracle setelah dewasa mulai mencari tahu atas dasar apa ia lahir di dunia ini. Selain bukan cinta, adakah yang lebih besar?

Sebenarnya tidak ada yang ingin disembunyikan tetapi waktu yang menghalangi. Sebelum Oracle beranjak dewasa, Giharu bukan saja cepat tua, namun meyakini dirinya akan mati sebelum anaknya mengerti alasan di balik keputusan yang diambilnya. Giharu kalang kabut. Dilema. Perlu tidak perlu memberitahunya.

Ini kisah cinta nyata. Cinta sejati dan penemuan diri yang lembut. Diawali dari sebuah mimpi.

Dari tanah Melayu, kota kelahiran Giharu, hingga Temanggung tempat gunung kembar Sindoro Sumbing bersemayam. Ia menemukan jati dirinya.

Bersama gunung, mengurai satu per satu kekusutan yang ditimbulkan dari konsepsi atas persepsi. Mirip merekonstruksi mobil tua, mencopot semua onderdil dan memasang kembali.

Kisah pencarian jati diri ini ditulis dalam trilogi novel judul Mainan Oracle, Sindoro di Balik Sumbing, dan Rinoa Karo Hope. Semua ditulis sebagai orang pertama, Giharu. Tokoh sekaligus penulis buku ini.

Membaca novel ini seperti menyusuri pegunungan. Menjumpai dataran luas ilalang, jalan landai, lalu menukik, berbelok tajam, terjal, berbatu, akhirnya berjumpa sabana lagi.

Langkah-langkah Giharu mengikuti kata hati dan impian terhadap hidup yang lebih indah. Ia membawa perjumpaan dengan aneka orang, watak, dan kisah. Ternyata panggilan hati seorang ibu terbukti tak lekang oleh apa pun, cintanya mengalahkan maut.

Banyak hal yang bisa dipetik dari tiga buku ini, di antaranya bahwa hidup hanya butuh sedikit untuk bahagia, yaitu bersikap adil. Baik adil bagi diri sendiri maupun orang lain, bahkan lingkungan sekitar. Giharu yakin, dengan prinsip keadilan ini, akan membawa urip tentrem. Hidup yang tentram.

Untuk amal

Trilogi karya Giharu ini belum terbit. Tapi sudah dipasarkan melalui jejaring sosial Facebook dan Linked In. "Kami harus menjual buku ini sebelum mencetak," kata Giharu, ketika bertemu dengan VIVAnews di Jakarta beberapa waktu lalu.

Bukan tanpa alasan, seperti dalam bukunya, hidup harus adil, ia juga menginginkan pencetakan ini juga adil. Ia ingin menghidupkan percetakan-percetakan kecil di Yogyakarta. "Karena itu saya harus menjual buku ini terlebih dulu untuk modal mencetak," katanya.

Selain untuk memberdayakan percetakan kecil, sebagian keuntungan penjualan buku ini juga untuk mengembangkan para petani di lereng Sindoro-Sumbing.

Anda bisa ikut berpartisipasi melalui Facebook Giharu, maupun Linked In Si Perempuan Gunung. Anda juga bisa menghubungi melalui email giharu@yahoo.com.