Bahaya di Balik Minim Ganti Pembalut saat Menstruasi

Ilustrasi menstruasi/haid/pembalut.
Ilustrasi menstruasi/haid/pembalut.
Sumber :
  • Freepik

VIVA – Periode menstruasi pada remaja putri menjadi momen yang sangat penting untuk bisa menjaga area kewanitaan. Sayangnya, rendahnya edukasi terkait pola mengganti pembalut, malah berdampak bahaya bagi fungsi organ reproduksi.

BeDdata Burnet Institute and Partners (2015) dan Direktorat Pembinaan Sekolah Dasar, Direktorat Jenderal Pendidikan Daardan Menengah, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (2017), menunjukkan bahwa hanya 5 dari 10 anak perempuan yang tahu apa yang harus dilakukan pada saat menarke (siklus menstruasi pertama).

Dari data yang sama, hanya 6 dari 10 anak yang bertanya mengenai menstruasi ke ibunya. Ironisnya, ibu justru menjadi sumber stigma, mitos, kepercayaan dan miskonsepsi yang merugikan kesehatan perempuan.

Sehingga, hanya 5 dari 10 anak perempuan yang mengganti pembalut setiap 4-8 jam. Sisanya mengganti pembalut 2 kali sehari.

Bahkan, hanya 5 dari 10 anak perempuan yang mencuci tangannya sebelum dan sesudah mengganti pembalut.

Pengurus Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI), Prof. Dr. dr. Dwiana Ocviyanti menyebut bahwa hal-hal tersebut bisa memicu rasa gatal, iritasi hingga infeksi di sekitar vagina.

"Pada saat menstruasi, risiko infeksi meningkat karena bertambahnya jumlah bakteri buruk di vagina, akibat turunnya tingkat keasaman vagina karena keberadaan darah haid," jelasnya, dalam acara virtual bersama Mundipharma bertajuk 'Sehat dan Bersih saat Menstruasi' baru-baru ini.