Jantung Berdebar saat Tak Aktivitas, Awas Bahaya Ini Mengintai

Serangan jantung
Serangan jantung
Sumber :
  • Times of India

VIVA Lifestyle – Serangan jantung kerap dianggap sebagai salah satu penyakit yang hanya mengintai kelompok lanjut usia. Faktanya, 20 persen dari kasus serangan jantung terjadi pada kelompok usia 30-40 tahun lantaran gejalanya tidak khas sehingga kerap diabaikan.

Menurut Data Riskesdas tahun 2018, prevalensi penyakit jantung di Indonesia meningkat sebesar 1,5 persen dan telah menjadi penyebab kematian tertinggi di Indonesia terutama pada usia produktif. Hal ini menguatkan bahwa penyakit jantung tidak hanya menjadi penyakit orang tua, tetapi juga berpotensi terjadi pada usia muda.

Penyakit jantung sejatinya tak memiliki gejala yang khas dibanding penyakit lainnya. Hanya saja, ada sejumlah keluhan yang sebenarnya bisa menjadi tanda jantung tengah bermasalah, yakni ketika terasa berdebar disertai gejala lain.

"Berdebar adalah keluhan subjektif. Diperiksa dulu, memang nadi bertambah cepat atau tidak. Misal nadi normalnya 80-100 hitungan per menit, dia sampai hitungannya 120, tanpa olahraga, mungkin ada sesuatu (di jantung)," ujar Dokter Spesialis Jantung & Pembuluh Darah Konsultan Kardiologi Intervensi RS Pondok Indah – Pondok Indah, dr. Wishnu Aditya Widodo, Sp.JP (K), FIHA, dalam acara virtual, baru-baru ini.

 

Namun berbeda ketika jantung berdebar saat olahraga atau aktivitas fisik lain dan detaknya menurun saat berhenti aktivitas, risiko masalah jantung termasuk rendah. Di sisi lain, ketika sedang tak beraktivitas dan jantung terasa berdebar hingga nyeri, bisa segera periksa ke dokter untuk memahami kondisinya.

"Saat lagi olahraga atau lagi aktivitas dan jantung sakit, maka sebaiknya stop dulu aktivitasnya. Lihat apakah membaik atau tidak dengan istirahat. Kalau berkurang hati-hati indikasi masalah jantung, minimal ke IGD di EKG," tuturnya.

EKG merupakan elektrokardigraf, di mana bekerja untuk merekam kelistrikan pada jantung dalam waktu tertentu. Dengan memeriksakan jantung, maka bisa menjadi langkah utama dalam pencegahan dini sehingga menghindari bahaya serangan jantung.

"Artinya kalau aktivitas lalu jantung sakit dan stop baru hilang, itu tanda-tanda masalah jantung. Hati-hati, minimal kita periksa dulu," tutur dr. Wishnu Aditya Widodo.

Penerapan gaya hidup yang tidak sehat seperti kebiasaan merokok dan konsumsi alkohol, kurang berolahraga, istirahat yang tidak teratur, dan pengelolaan stres yang kurang baik menjadi beberapa faktor penyebab penyakit jantung kini semakin sering dialami oleh usia muda.

Selain itu, kurangnya kesadaran masyarakat untuk melakukan pemeriksaan berkala dan deteksi dini ditengarai menjadi penyebab terlambatnya pasien mendapat penanganan. Untuk itu, penting mendeteksi dini melalui cek medis rutin setahun sekali.

EKG/Pemeriksaan jantung

EKG/Pemeriksaan jantung

Photo :
  • times of india

"Secara klasik, rekomendasi yang diberikan, check-up rutin 1 tahun sekali, untuk kelompok usia atas 40 tahun. Cek tekanan darah, faktor, risiko dan treadmill tes. Untuk kasus jaman sekarang, karena banyak usia 30 tahun-an kena masalah jantung, mungkin pilih-pilih, usia 30 banyak faktor risiko keluarga, tanda-tanda hipertensi, merokok, minimal check up rutin 1 tahun sekali," ujar .dr. Wishnu Aditya Widodo.

Selain deteksi dini, dianjurkan agar generasi muda bisa mulai menjalani pola hidup sehat dengan memilah sumber nutrisi yang tepat dan makan secara teratur. Hindari juga merokok dan konsumsi alkohol, serta rutin berolahraga agar tubuh tetap bugar.

"Ini 3 hal yang bisa kita atur. Ada faktor tidak bisa diatur misal bawaan hipertensi, kolesterol, gula, lakukan dengan check-up rutin. Misal kolesterol jaga tetap rendah, tensi tetap bagus," kata dia.