Kemenkes Ungkap Kematian Akibat Antibiotik Jadi Silent Pandemic

Ilustrasi obat
Ilustrasi obat
Sumber :
  • Freepik/freepik

VIVA Lifestyle – Pandemi COVID-19 masih berlangsung sejak dua tahun lalu dengan angka kasus yang kian bertambah. Meski begitu, kondisi kasus COVID-19 sudah mulai mereda dengan sejumlah pelonggaran aktivitas. Namun rupanya, masih ada bahaya penyakit tersembunyi lainnya yang memicu kematian.

Wakil Menteri Kesehatan RI, dr. Dante Saksono Harbuwono mengatakan resistensi antibiotik akibat mikroba atau antimicrobial resistance (AMR) dapat disebut sebagai silent pandemic. Pasalnya angka kematian akibat AMR cukup tinggi.

“1,2 juta kematian itu terjadi karena antibiotik yang tidak mempan lagi terhadap infeksi tertentu,” ujar Wamenkes Dante usai penutupan pertemuan Side Event AMR dalam rangkaian G20, dikutip dari keterangan persnya.

Resistensi antibiotik akibat mikroba terjadi karena protokol pengobatan yang sembarangan. Akibatnya infeksi pada pasien bertambah parah dan ini yang menyebabkan angka kematian tinggi.

Dante Saksono Harbuwono

Dante Saksono Harbuwono

Photo :
  • Ist

Indonesia menginisiasi pembahasan aturan penggunaan antibiotik dalam side event AMR karena Indonesia salah satu negara tropis yang angka infeksinya tinggi. Pembahasan ini diperlukan untuk mengatur penggunaan antibiotik yang lebih rasional, sehingga kematian akibat kesalahan penggunaan antibiotik menjadi berkurang.

Selain itu, resistensi antibiotik akibat mikroba bisa berasal dari hewan dan tumbuhan. Wamenkes menyoroti pendekatan one health dalam merespons masalah tersebut.