Jangan Diremehkan, Tiga Hal Ini Perbesar Risiko Kematian

Ilustrasi tanggal kedaluwarsa makanan
Sumber :
  • Pixabay/Greyerbaby

VIVA.co.id – Dalam dunia medis, faktor pemicu kematian di luar kejadian musibah, tidak hanya terjadi akibat terjangkitnya suatu penyakit. Faktor risiko kematian dimulai dari hal yang sederhana, misalnya gaya hidup, pola pikir hingga asupan makanan.

Dexamethasone Obat Pertama yang Terbukti Jadi Penyelamat Lawan Corona

Beberapa faktor keseharian juga memiliki andil. Berikut ini beberapa faktor keseharian yang mampu memicu tingkat kematian seseorang. Seperti dilansir dari laman Medical daily.  

Makanan kedaluwarsa

Demi Apa Pria Ini Nekat Konsumsi Makanan Kedaluwarsa Selama Setahun?

Studi yang dirilis di Science Advanvces menemukan bagaimana efek dari makanan yang sudah habis masa tenggangnya, berdampak pada sel-sel penuaan dini. Ragam makanan basi tersebut berbeda jenis, mencakup makanan yang berjamur dan buah busuk diujicobakan pada tikus percobaan.

Para peneliti menginterpretasikan hasil percobaan tersebut, di mana makanan basi mampu menjadi salah satu faktor kuat yang berdampak pada kerusakan sel tubuh. Sehingga, asupan makanan ini menjadi dasar utama untuk kesehatan tubuh manusia.

Masih Bisakah Produk Dikonsumsi Setelah Kedaluwarsa?

Kesehatan sel sendiri, berkaitan dengan harapan hidup seseorang. Jadi, makanan basi yang dikonsumsi, dapat memperpendek harapan hidup seseorang.

Kurang memiliki rasa humor

Selain makanan basi, beberapa hal lain juga menjadi faktor pemicu yang memperpendek harapan hidup. Salah satunya, kurang memiliki rasa humor.

Dari studi Psychosomatic Medicine, menemukan bahwa wanita yang memiliki rasa humor tinggi, mampu hidup lebih lama. Hal itu disebabkan, kelompok tersebut terhindari dari serangan penyakit tertentu, khususnya penyakit jantung dan infeksi.

Rasa humor tinggi pada kelompok wanita, berkaitan dengan penurunan risiko kematian dari semua penyebab sebesar 48 persen, 73 persen dari penyakit jantung, serta 83 persen dari infeksi. Pada kelompok pria, rasa humor yang tinggi berkaitan dengan penurunan risiko kematian akibat infeksi sebesar 74 persen.

Tidak bergaul dengan rekan kerja

Orang yang bersikap 'friendly' dan bergaul dengan rekan kerjanya di kantor memiliki harapan hidup lebih panjang dibandingnkan dengan orang yang minim bergaul. Studi yang dipublikasi dalam jurnal Health Psychology menyebutkan bahwa memiliki teman yang 'friendly' dan supportif akan menurunkan tingkat stres, tekanan darah dan kadar kolesterol seseorang. Efek tersebut semakin berpengaruh pada rentang usia 38-43 tahun. Penyebab lain adalah argumen dan load kerja yang tinggi juga menyebabkan tingginya risiko kematian.

 

Ilustrasi gangguan kepribadian, gangguan mental

Studi: Risiko Tinggi Kematian Pasien COVID-19 dengan Gangguan Mental

Lantas, bagaimana risiko kematian pada pasien gangguan mental yang terinfeksi COVID-19? Sebuah jurnal pun baru saja diterbitkan.

img_title
VIVA.co.id
20 Juli 2021