Semanggi, Kuliner Langka Asal Surabaya

Pedagang Semanggi Suroboyo di Taman Bungkul Surabaya, Jawa Timur,
Sumber :
  • VIVA/Nur Faishal

VIVA – Penjual kuliner khas Surabaya, Semanggi, bisa dikatakan langka. Bila lidah Anda betul-betul kangen mencicipi penganan ringan ini, jalan-jalanlah ke Taman Bungkul Surabaya saat car free day atau CFD setiap Minggu pagi. Di area itulah penjual Semanggi biasa menjaring penikmat.

img_title Terungkap, Ini Menu Makanan Sunda Favorit Chef Renatta

Semanggi sudah jadi ikon Kota Surabaya. Kuliner ini bahkan kerap dilekatkan dengan perjuangan kemerdekaan, kala Arek-arek Suroboyo mati-matian mengusir NICA dari Kota Pahlawan tahun 1945 silam. Semanggi adalah salah satu penganan yang diasup oleh para pejuang.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Kuliner satu ini juga ada lagunya: Semanggi Suroboyo. Lagu keroncong ini dicipta dan dipopulerkan S. Padimin pada tahun 1950-an. "Semanggi suroboyo, lontong balap wonokromo. Dimakan enak sekali, sayur semanggi krupuk puli. Bung... Mari...," begitu penggalan liriknya.

img_title Sambut Tahun Baru Beragam Makanan Jadi Simbol Harapan

Kuliner ini berbahan utama sayur semanggi yang dimasak sampai lembek, kecambah matang, dan sambal pecel berbumbu khas. Kerupuk puli jadi pelengkap. Bukan piring, pincuk daun pisang segar menjadi wadah penganan khas ini. 

Tergerus zaman, penjual semanggi kini jarang ditemukan karena tergeser aneka kuliner modern. Sesekali saja penjual semanggi ditemukan di beberapa sudut ruang publik di Surabaya, di antaranya di Taman Bungkul di Jalan Raya Darmo, dan sekitar Masjid Al Akbar di kawasan Jalan Gayungsari.

img_title "Super Jorok" 5 Nama Menu Tradisional Ini Gak Kalah Heboh dari Klepon

Semanggi Suroboyo

Penjual semanggi masih seperti dulu. Mereka biasanya perempuan, kebanyakan sepuh. Duduk di trotoar atau area lapang taman kota. Di depannya teronggok bakul anyaman beralas daun dan kerupuk puli dalam plastik. Sang penjual kebanyakan berbusana khas pedesaan,
sehingga mudah dikenali.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Di Taman Bungkul, penjual semanggi biasanya terlihat saat akhir pekan, yakni pada Sabtu dan Minggu. Salah satunya bernama Lilis Daryanti, warga Duduk Sampeyan, Kabupaten Gresik, Jawa Timur. "Tapi saya tinggal di saudara di Tandes," katanya ditemui VIVA di Taman Bungkul Surabaya, Minggu, 11 Februari 2018. 

Perempuan 30-an tahun itu mengaku berjualan tiap Sabtu dan Minggu di Taman Bungkul. Di hari biasa, pembeli sepi. Dari Tandes di perbatasan Surabaya-Gresik, dia diantar-jemput oleh suaminya. "Saya baru empat bulanan jual semanggi," ujar Listi.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut