- VIVA/Muhamad Solihin
Dari situ lah Raldi pun semakin termotivasi. Idenya memperbaiki inkubator berubah menjadi ingin membuat, tentunya dengan harga murah dan kualitas baik.
Setidaknya, hampir tujuh tahun berproses, barulah kemudian sebuah inkubator siap pakai pun berhasil dirakit Raldi pada 2001. Olehnya, purwarupa inkubator itu pun dimasukkan dalam proyek Bank Dunia, Advanced Technology Innovation.
Lewat itu, sejumlah inkubator rakitan Raldi pun dipergunakan sejumlah rumah sakit. "Sisa uang dari proyek itulah kemudian kami buatkan inkubator lagi. Waktu itu dua inkubator besar. Ini yang kami pinjamkan ke masyarakat," ujarnya.
Dan sebagai pengguna pertama inkubator rakitan Raldi adalah teman sekolahnya yang cucunya lahir prematur. Cerita sukses itu pun berkembang, dan membuat inkubator besar itu pun banyak digunakan yang lain.
Namun, dalam perjalanannya, inkubator besar itu rupanya memiliki kendala. Mengangkat kotak kaca ukuran besar itu bukan perkara mudah untuk yang akses jalannya jelek.
Selain itu, daya listrik yang tak semuanya mumpuni di kalangan masyarakat ikut menjadi masalah. "Dari situ jadilah kemudian ide untuk membuat inkubator portable, yang kecil, biar bisa leluasa. Diangkutnya gampang, dan tak banyak memakan listrik," ujar Raldi.
Sejak itu, pengguna inkubator gratis milik Raldi pun meluas. Para keluarga miskin yang tak mampu membayar sehari Rp2,5 juta untuk sewa inkubator di rumah sakit sekitaran Jabodetabek, betul-betul terbantu.
Apalagi, yang namanya inkubator untuk bayi prematur bukan barang sebentar digunakan. "Biasanya bayi prematur itu membutuhkan (inkubator) sampai satu bulan. Nah di kami, kami pinjamkan gratis," ujarnya.
![]()
Profesor Raldi Artono Koestoer sedang mengecek inkubator buatannya di kantornya di Universitas Indonesia, Depok, Selasa 30 Januari 2018Â (VIVA/Solikhin)
Siap Ditiru
Konsep peminjaman inkubator tanpa biaya yang dilakukan Raldi diakuinya memang tanpa tendensius apa pun. Baginya, ini tak lebih sebagai sebuah pengabdian dari keahlian yang memang dimilikinya.
"Ini namanya fardu kifayah. Karena saya berbuat sesuatu dan hanya saya yang bisa. (Bila) semua umat ini tertolong, lepas dari dosa," ujar pria yang mengaku sudah 10 kali naik haji ini.