- VIVA/Muhamad Solihin
Selain itu, bagi Raldi, angka kematian bayi di Indonesia yang mencapai 25 hingga 30 bayi per hari per 1.000 kelahiran sudah begitu menyedihkan.
Posisi itu jelas jauh lebih buruk dari Malaysia yang hanya ada enam kematian bayi per hari, Thailand 14 bayi, dan Filipina 17 bayi per hari per 1.000 kelahiran. Belum dibanding Jepang yang hanya 2,5 bayi meninggal per hari.
Atas itu, Raldi pun bertekad untuk membantu menekan itu. "Nggak usah di angka 10 per hari (kematian bayi). Paling enggak mendekati tetangga. Kita bisa nggak mencapai 14 saja (kematian bayi)" ujarnya.
Sejauh ini, Raldi bersama tim berkomitmen untuk rutin membuat 10 inkubator per bulan dengan bantuan relawan yang sudah tersebar di 60 kabupaten/kota. Bahkan, ia sudah menargetkan agar bisa menjangkau sedikitnya 300 kabupaten/kota se-Indonesia hingga 2020.
Tak cuma itu, mimpi besar yang sedang digagas adalah membangun relawan yang bisa menjangkau hingga ke luar Indonesia. "Equator belt. Ini artinya negara sekitar ekuator. Karena iklimnya itu sama dengan Indonesia. Jadi tidak perlu mengubah lagi inkubator (produksi) kami," ujar Raldi.
Dan sementara untuk mempercepat teknis perluasan jangkauan penggunaan inkubator, Raldi menyebut telah merancang sebuah manufaktur khusus untuk perakitan inkubator.
Terdapat tiga tempat yang akan dirancang, pertama Yogyakarta yang kini dalam tahap uji coba. Lalu, kedua di Surabaya, Jawa Timur dan berikutnya di Palembang, Sumatera Selatan.
Raldi pun mengaku tak mempermasalahkan jika produk yang dibuatnya mungkin akan diduplikasi. Baginya, hal itu justru akan menjadi sebagai bantuan baru untuk menyebarluaskan penggunaan inkubator untuk yang membutuhkan.
"Tiru saja saya bilang. Kalau Anda bisa meniru produk ini berarti Anda hebat. Saya senang, malah akan kami ajarin," ujar Raldi.
![]()
Profesor Raldi Artono Koestoer sedang menjelaskan program peminjaman inkubator gratis, Selasa 30 Januari 2018 (VIVA/Solikhin)
Berbagi Kebaikan
Felix Leona Hidayat, pria berusia 38 tahun itu mengaku telah setahun menjadi relawan untuk Yayasan Bayi Prematur Indonesia.
Pengusaha muda ini mengaku memilih menjadi relawan semata untuk memuaskan batin agar bisa menolong orang lain. "Saya ingin meninggalkan kenangan manis selama hidup di dunia," ujar pria yang kini berdomisili di Palembang ini.