- VIVA/Muhamad Solihin
Menjadi relawan yang bekerja membagiakan cuma-cuma inkubator, sejatinya bukanlah mudah. Sebab, setiap relawan mesti memenuhi prasyarat yang diminta oleh Profesor Raldi, seperti telah sejahtera dalam artian tak ada masalah finansial, setidaknya memiliki kendaraan roda empat, lalu telah menikah, dan pastinya mampu mengganti biaya produksi inkubator.
Sebab, satu inkubator, setiap relawan harus menyiapkan uang Rp2,5 juta, dan Rp1 juta untuk lampu fototerapi. Jumlah ini sangat jauh lebih ringan dibanding sebuah harga inkubator di pasaran yang mencapai Rp70 juta bahkan ada yang menembus Rp250 juta per unitnya.
"Dengan menjadi relawan seperti ini, saya bisa banyak membantu orang maupun negara," kata Felix yang kini menyediakan dua inkubator gratis di Palembang.
Selaras dengan Julius Setya Kusuma (32), pria asal Banyumas, Jawa Tengah, yang telah empat tahun bergabung menjadi relawan inkubator, mengaku sama dengan Felix. Bahwa yang dikerjakannya saat ini murni untuk menolong.
Namun, berbeda dengan Felix yang menggunakan uang sendiri. Julius menebus inkubator dari Profesor Raldi menggunakan dana yang didapat dari para donatur dan komunitas di Banyumas. Setidaknya ada lima inkubator yang kini dikelolanya.
Mengenai teknis peminjaman, Julius menyebut dibuat dengan sistem sesederhana mungkin, yakni menggunakan sistem pesan singkat melalui ponsel.
"Kirimkan data bayinya, alamatnya di mana. Atau bisa langsung ke rumah saya," ujar Julius.
Dan hebatnya lagi, bagi warga yang memang tak bisa menjemput, Julius dan rekannya telah memiliki fasilitas ambulans gratis. Jadi cukup tunggu di rumah, inkubator pun tiba dan bisa dipergunakan.
Sejauh ini, Julius mengaku telah ada puluhan bayi yang terbantu lewat inkubator gratis milik mereka. Kendala yang dihadapi, paling hanya persoalan pasokan listrik.
Sebab, di beberapa daerah kawasan Banyumas, kerap terjadi listrik mati. Kondisi yang membuat inkubator tak berfungsi. Sedang yang lainnya terkait dengan ketersediaan suku cadang atau sparepart, yang memang masih menunggu pasokan dari Jakarta.
Kisah serupa juga dilontarkan Adji Parmudia. Bapak tiga anak berusia 54 tahun asal Surabaya yang telah menjadi relawan inkubator gratis sejak pertengahan 2016 ini, juga mengaku bangga telah menebar kebaikan untuk sesama.