SOROT 486

Meniti Jalan Pedang

Seorang bayi yang baru lahir pada 29 Januari 2018, tidur di dalam inkubator di rumahnya di Kampung Dayeuh Desa Sukanegara, Jonggol, Bogor, Jawa Barat, 31 Januari 2018.
Sumber :
  • VIVA/M Ali Wafa

“Suami saya kebetulan pernah nonton Kick Andy yang menayangkan tentang peminjaman inkubator gratis. Lalu suami saya mencari tahu di Google, dan dapatlah blognya Prof. Raldi. Di sana dijelaskan tentang peminjaman inkubator gratis. Dan di sana juga terbuka menjadi agen relawan,” ujar Bonaventura Zita Enny Wati.

img_title Top Trending: Suami-istri Cabuli Anak Kandung, Bayi Prematur Meninggal Usai Dibuat Konten

“Nah karena di Jonggol sini belum ada juga agen relawan peminjaman inkubator gratis, maka kami mengajukan diri untuk menjadi agen relawan,” ujarnya menambahkan.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Setelah selesai membersihkan inkubator, Lugi langsung membawa ‘pengganti rahim’ itu ke mobil yang sudah disiapkan di depan rumah. Selain inkubator, ia juga membawa timbangan digital dan fototerapi. Juga selembar kertas yang berisi panduan tata cara menggunakan inkubator. Setelah semuanya dirasa lengkap, pasangan ini pun langsung menghidupkan mobil dan meluncur ke rumah warga yang hendak meminjam inkubator tersebut. 

img_title Viral Bayi Prematur 1,5 Kg Meninggal di Tasikmalaya, Ternyata Ini Penyebabnya

Uji Kesabaran

Perempuan paruh baya yang biasa disapa Enny ini menuturkan, tak mudah menjadi agen relawan. Pertama mereka harus menyediakan dana untuk ganti ongkos produksi inkubator. “Karena kami betul-betul ingin bergerak, bermodalkan hati, kami mengumpulkan donasi.  Kami patungan. Setelah dua atau tiga bulan baru kami bisa mengumpulkan uang untuk biaya mendapatkan satu unit inkubator,” ujarnya mengenang.

img_title Potret Haru 28 Bayi Prematur Berhasil Dievakuasi dari Gaza ke Mesir

Usai dana terkumpul, Lugi pun melamar untuk menjadi relawan. Namun kesabaran ia kembali diuji. Pasalnya, Profesor Raldi tak langsung merespon. Mereka sampai harus bolak balik mengirim email lamaran untuk menjadi relawan. “Ada sekitar satu bulanan baru mendapatkan jawaban.”

Lugi mengatakan, selain mengganti ongkos produksi, ada sejumlah syarat yang harus mereka penuhi. Salah satunya merdeka dari urusan ekonomi. ”Agen relawan tidak diperbolehkan mencari keuntungan atau menjadikan gerakan ini sebagai gerakan komersial atau mencari uang,” ujar mantan atlet taekwondo ini.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Saat ini mereka mengelola tujuh unit inkubator dan dua set lampu fototerapi. Menurut Enny, sudah lebih dari 120 bayi yang menggunakan inkubator dan fototerapinya.

Tak sulit untuk bisa meminjam inkubator yang dikelola pasangan yang terlihat kompak dan hangat ini. Warga cukup kirim pesan singkat (SMS) atau melalui WhatsApp (WA). “Nomer WA saya ini sudah tersebar ke bidan-bidan. Kalau mereka kesulitan menghubungi SMS Center, mereka kirim WA ke saya,” ujarnya.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut