- VIVA/M Ali Wafa
“Saya berterima kasih kepada ibu-ibu relawan, berkat pertolongannya Dede bisa sehat dan besar sampai sekarang ini. Saya tidak bisa membalas kebaikannya, mudah-mudahan dibalas oleh Allah SWT.”
Kepala Puskesmas Sukanegara, Jonggol dr. Yukhi Mustika menyambut baik program peminjaman inkubator gratis. Menurut dia, program tersebut sangat membantu warga yang melahirkan bayi secara prematur. “Masyarakat membutuhkan yang seperti ini. Ketika kami petugas kesehatan terbentur dan bingung mau dibawa kemana, karena masyarakat terbentur masalah keuangan,” ujarnya kepada VIVA, Rabu 31 Januari 2018.
Menurut dia, bayi prematur di bawah berat 2000 gram memang butuh inkubator. Karena, kebanyakan penyebab kematian bayi prematur karena hipotermia. “Dan inkubator ini kita perlukan salah satunya untuk mencegah hipotermia,” ujarnya menambahkan.
“Ini sangat membantu. Apalagi ini bisa langsung ke masyarakat. Karena memang masalah masyarakat itu kan masalah ekonomi. Kita tahu bahwa kasus-kasus bayi prematur yang tidak dapat tertolong itu karena masalah alat kesehatan. Keluarga bayi tidak mampu membayar biaya rumah sakit. Jadi ini sangat membantu sekali.”
![]()
Bayi dari anak Ateng dan Ana Nurhasanah tidur di dalam inkubator di rumahnya. (VIVA/M Ali Wafa)
Lugi berharap, ke depan semakin banyak orang yang menjadi agen relawan. Pasalnya, jumlah kematian bayi prematur masih tinggi. Menurut dia, dengan banyaknya orang yang mau terlibat, semakin banyak orang yang akan menolong bayi-bayi yang lahir prematur.
Meski banyak kendala dan tantangan, Lugi menyatakan akan terus menjadi agen relawan. Lugi mengaku, sehari-hari ia dan istrinya hanya mengurusi peminjaman inkubator dan alat-alat kesehatan. Mereka tak punya pekerjaan dan penghasilan. Guna memenuhi kebutuhan harian, Lugi menyerahkan sama Tuhan.
“Kami bukan karyawan, kami tidak punya pekerjaan tetap, sehari-hari kami bekerja full untuk sosial saja. Selama ini kami bergantung sama Tuhan saja,” ujarnya.
Meski tak memiliki pekerjaan dan penghasilan, Lugi merasa sudah selesai dengan persoalan ekonomi. “Kami tidak pernah khawatir mengenai penghidupan kami sendiri. Yang kami khawatirkan adalah bagaimana kami bisa menolong orang lain.” (ren)