- VIVA/M Ali Wafa
![]()
Foto Enny Bonaventura sedang menata alat-alat kesehatan di rumahnya. (VIVA/M Ali Wafa)
Pasangan yang belum dikarunia anak ini tak hanya menunggu. Namun, mereka pro aktif mencari warga tak mampu yang membutuhkan inkubator. Bahkan, pasangan ini menebar kartu nama agar warga lebih mudah menghubungi mereka. “Setiap kali ke rumah sakit, kami mencari tahu informasi tentang bayi yang lahir prematur. Setiap ke puskesmas kami sosialisasi. Setiap ada plang bidan, kami datangi dan sosialisasikan program peminjaman inkubator gratis ini. Bertukar nomer WA dan lain sebagainya.”
Lugi mengatakan, ia dan istrinya menjadi agen relawan karena prihatin dengan masih tingginya angka kematian bayi prematur. “Bayi prematur itu adalah masalah yang ril di masyarakat. Di lingkungan kami sendiri banyak kasus-kasus bayi yang lahir secara prematur,” ujarnya.
Sementara, tingginya kelahiran bayi prematur tidak diimbangi dengan fasilitas kesehatan yang memadai. “Kadang di rumah sakit ketika ada ibu yang melahirkan bayi prematur, dia tidak bisa mendapatkan ruang NICU. Bahkan ada beberapa rumah sakit di sini yang ruang NICU nya tidak ada. Kalau pun ada tidak semua masyarakat yang membutuhkan mempunyai uang untuk membayar,” ujarnya menambahkan.
Menurut dia, biaya perawatan bayi prematur di daerahnya masih cukup tinggi. Sewa inkubator paling murah Rp500 ribu perhari. Kalau di rumah sakit swasta antara Rp2 juta. Bahkan, ada yang sampai Rp4 juta perhari. Sementara, bayi prematur rata-rata harus berada di dalam inkubator minimal satu bulan. “Bisa dibayangkan berapa biaya yang dibutuhkan untuk merawat bayi prematur selama satu bulan di rumah sakit,” ujarnya menjelaskan.
“Kami pernah mendapatkan kasus, ada satu keluarga yang sampai menjual rumah untuk merawat anaknya ketika harus mendapatkan NICU di rumah sakit. Sekarang dia tinggal di rumah petak,” ujarnya.
Selain inkubator, Lugi dan Enny juga meminjamkan fototerapi untuk mengatasi bayi kuning. Mereka juga meminjamkan kursi roda, kruk, walker, tongkat dan kasur angin khusus untuk penderita stroke. “Jadi dimana ada kebutuhan masyarakat, kami berusaha mencari donatur agar bisa mendapatkan alat kesehatan yang dibutuhkan dan kami pinjamkan secara gratis sampai pasiennya sehat.”