- VIVA/Muhamad Solihin
Terlepas dari kariernya yang gemilang dan kepedulian sosialnya yang tinggi, sepertinya perempuan yang pernah ditunjuk sebagai penasihat Wakil Presiden Republik Indonesia pada awal 2015 silam dan mendapat banyak penghargaannya atas kiprahnya itu layak disebut sebagai perempuan tangguh.
Namun sayangnya, tak banyak perempuan sekaligus pebisnis setangguh Shinta di Indonesia. Soal minimnya jumlah perempuan sukses dan memimpin perusahaan, menurut dia, lantaran masih adanya diskriminasi gender di dalam negeri. Contoh sederhana saja, dia pernah mendapat pengalaman kurang menyenangkan ketika menjadi peserta sebuah acara ketika didampingi suaminya. Saat itu, dia justru dikira mendampingi suaminya, bukan peserta.
Tapi tak cuma diskiriminasi gender yang menghambat perempuan mendaki tangga kesuksesan, karena banyak perempuan yang justru tidak memiliki keinginanan untuk meningkatkan kariernya sebab khawatir sulit membagi waktu antara karier dan keluarga. Selain itu, takut akan kehilangan privacy atau tidak adanya dukungan dari keluarga, terutama suami.
"Saya rasa sangat penting untuk kita merasa menjaga bagaimana kita menyeimbangkan role kita sebagai ibu rumah tangga karena itu kodrat kita. Tapi juga kita sebagai wanita karier, orang publik juga sosial," ucapnya.
Namun, bagi dia, jika perempuan cukup progresif, dengan meningkatkan kemampuan maka mereka memiliki kesempatan yang sama seperti kaum Adam. Soal membagi waktu antara karier dengan keluarga, disiplin adalah kuncinya.
Misalnya, jangan pernah membawa masalah bisnis ke rumah, jadikan harga mati akhir pekan sebagai waktu kumpul dengan keluarga dan pantang diganggu dengan urusan bisnis. Komunikasi dengan keluarga juga harus sering terjalin.
"Masing-masing anak itu punya kebutuhan, di mana seorang ibu harus bisa memperhatikan. Dan betapa pun sibuknya kita, keluarga itu tetap prioritas kita," kata Shinta, menyarankan.
![]()
Soal pemimpin perempuan, dalam beberapa studi disebutkan bahwa mereka lebih detail dan sensitif dibanding laki-laki. Hal ini dipertegas dengan pengakuan Yono yang telah bekerja sejak kepemimpinan ayah Shinta. Menurutnya, perempuan lebih teliti dan detail.
Selain itu, perempuan memiliki multi tasking yang hebat. "Kalau laki kan, kita konsentrasi ngerjain apa, langsung hilang semua, bisa ada yang lupa. Kalau dia (Shinta) enggak. Itu kelebihannya," ujarnya.